Berani Mati, Takut Hidup

Suatu kali di sebuah pasar, Nasruddin memetik gitar. Ia hanya membunyikan satu not. Beberapa saat kemudian orang-orang berkumpul mengerumuninya dan seorang berkata,”Mullah, kamu memainkan not yang bagus, tapi kenapa tidak kamu buat variasi seperti para musikus lain?”
“Oh, mereka itu goblok!” sahut Nasruddin,”Mereka mencari-cari not yang tepat.”
Orang-orang plonga-plongo. Lanjut Nasruddin,”Aku sudah menemukan not yang tepat itu.”
Maka, Nasruddin terus memainkan not yang sama karena baginya, itulah satu-satunya not yang tepat dalam musik. [C
erita saya sadur dari buku Awareness yang berisi konferensi atau tulisan Anthony de Mello, yang dikumpulkan oleh Francis Stroud. Keduanya adalah imam jesuit]

Cerita itu menggambarkan orang yang stagnan dalam hidupnya, bukan karena hidup ini suck, melainkan karena orang itu sendiri yang tak kreatif melihat kehidupan. Orang beragama merasa agamanyalah yang paling benar di seantero jagad. Orang beriman merasa sudah menemukan Tuhan yang tak pernah pergi dari genggamannya. Orang ateis berpikir ideologinyalah yang paling benar. Semua orang macam itu sama saja seperti Nasruddin, hanya bisa hidup dengan not tunggal dan semua orang seharusnya pemikirannya seperti dia.

Kebahagiaan bagi orang-orang macam itu tak lain hanyalah kelekatan terhadap agama, konsep tentang Tuhan, atau ideologi; dan karena kelekatan itulah hidup orang dihantui ketakutan: takut siksa neraka atau takut siksa dunia. Yang takut siksa neraka sibuk dengan kehidupan setelah kematian. Yang takut siksa dunia sibuk dengan survival dalam hidup yang serba tak pasti. Bisa dibalik juga sih: karena kelekatan itu tadi orang menghasrati hantu pahala, yaitu surga atau pemenang dalam survival of the fittest. Keduanya sama: tak menemukan makna dalam hidup sekarang dan di sini, selain survival, terasing dari diri sendiri, dan dengan demikian juga terasing dari dunia hidupnya.

Adalah George Wilhelm Friedrich Hegel, yang pada masa mudanya sudah menengarai kematian Tuhan, jauh hari sebelum orang di abad akhir millenium lalu latah dengan bahasa ‘ateistik’ itu. Kata dia, konseptualisasi Yang Ilahi yang ditularkan ‘agama’ itu membuat orang mengobjekkan Tuhan. Coba ambil contoh kata DOG dalam bahasa Inggris [ini bukan kata Hegel, melainkan contoh dari dosen saya]. Orang bisa melihat, memegang, mencium DOG itu. Singkatnya, orang bisa mengobjekkannya, memikirkannya berdasarkan sensasi inderawi bersama DOG. Akan tetapi, jika tiba giliran membaca dari belakang kata itu, GOD, problem muncul: siapa yang bisa mengobjekkan GOD?

Nyatanya, entah orang beragama atau ateis, sama-sama mengobjekkan GOD. GOD jadi stranger dan object dari pikiran orang. Di situlah Hegel melihat persoalannya. Tuhan yang asing dan jadi objek pikiran orang itu tiada. Memang orang bisa meributkan eksistensi-Nya, sifat-sifat-Nya dan keributan itu takkan kunjung usai karena Tuhan jadi objek yang tak terhingga (infinite object). Hegel mengakui infinity (ketakterhinggaan) ini, tetapi bukan dalam arti mengatasi dan melawan dunia yang terbatas melainkan dalam dan melalui keterbatasan dunia itu, mendasarinya, menganimasinya, mengorientasikannya. Infinity ini takkan terkonsepkan 100%, takkan pernah bisa jadi objek pikiran. Menurut Hegel, mediasi antara dunia terbatas dan infinity itu hanya mungkin dalam cinta, dalam tindakan, dalam kehidupan yang dibaktikan untuk mengatasi aneka kontradiksi dalam eksistensi manusia.

Dalam tegangan aneka kontradiksi itu, orang bisa mengambil pilihan heroic berani mati tetapi bermotifkan cowardice: takut hidup dengan aneka not, seperti tadi dicontohkan oleh Nasruddin.