Gak Butuh Nabi

Cobalah katakan “Tak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya” kepada orang-orang di sekeliling kita dan perhatikan reaksi mereka. Apakah mereka marah karena perkataan itu? Saya kira tidak, karena perkataan itu memuat kebenaran dan kita bukan nabi yang dimaksudkan dalam kalimat itu. Kalaupun kita memang nabi itu, kemungkinan besar mereka hanya akan menganggap kita gila atau sableng atau kurang genep (eaaa muncul lagi dia). Gak ada konteks yang bisa memicu kemarahan orang. Teks Injil hari ini rasanya janggal. Yesus cuma mengatakan kalimat tadi, kok lantas orang-orang sangat marah!

Yang memberi konteks atas kemarahan itu ialah ayat-ayat sebelumnya, dimulai dari ayat 14. Yesus menghilangkan ayat yang disitirnya dari Kitab Yesaya (61,2). Semestinya berbunyi Roh Tuhan ada padaku, oleh karena Tuhan telah mengurapi aku; Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan dan hari pembalasan Allah kita. Tetapi apa yang dibuat Yesus? Ia berhenti pada tahun rahmat Tuhan. Orang Yahudi tahu persis bahwa setelah itu masih ada frase pembalasan Allah, tetapi itu dihilangkan oleh Yesus.

Nah, itulah problemnya. Mereka ingin bahwa tahun rahmat Tuhan itu adalah wujud pembalasan Allah sendiri bagi orang yang jadi penindas sesamanya. Mereka tak butuh perubahan sistem atau dengan kata lain, mereka ingin mempertahankan sistem balas dendam. Orang demo terhadap pemerintah yang menyengsarakan rakyat, tokoh demonya berhasil naik posisi dan mendapat jabatan, lalu memeras rakyat, didemo oleh rakyat yang tertindas, lalu yang demo itu berhasil jadi penguasa, lalu menindas rakyatnya, dan begitu seterusnya. Inilah yang diinginkan orang Yahudi pada masa Yesus itu: bukan pertobatan, melainkan mekanisme balas dendam yang dilegitimasi oleh agama! Mereka cuma pikir pendek, pokoknya balas!

Yesus jelas menentang pola pikir itu. Pengalaman akan Allah mengajarkan kepadanya makna menjadi nabi. Nabi tidak muncul untuk memuaskan nafsu balas dendam Allah. Nabi justru hendak merealisasikan bahwa Allah itu mahabesar dan maharahim bagi siapa saja: bagi siapa saja, bukan cuma bagi orang Yahudi, bukan cuma bagi orang Kristen, bukan cuma bagi orang Islam, dan seterusnya. Mekanisme balas dendam sudah dengan sendirinya membuat eksklusi, membatalkan universalitas Allah itu. Yesus menunjukkan fakta sejarah bahwa keselamatan, kesembuhan diberikan kepada orang di luar hitungan bangsa Israel, seperti Naaman yang dikisahkan dalam bacaan pertama. Ini semua yang memicu kemarahan orang Yahudi terhadap perkataan Yesus “Tak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya”.

Apa mau dikata? Orang tak butuh nabi. Orang butuh raja, presiden, gubernur, walikota, bupati, camat, lurah, ketua RT yang bisa melaksanakan hukum pembalasan bagi pengedar narkoba, teroris, gali, dan sebagainya. Nabi Allah pasti takkan cawe-cawe untuk merealisasikan hukum pembalasan. Ia menunjukkan nilai yang lebih fair, yang memungkinkan Allah jadi raja (kalau Dia mau) bagi semua saja.

Tuhan, semoga kami dapat mengenali hukum-Mu yang lembut bagi semua orang. Amin.


HARI SENIN PRAPASKA III
29 Februari 2016

2Raj 5,1-15a
Luk 4,24-30

Posting Tahun 2015: Logika Kuasa Gak Jalan
Posting Tahun 2014: Change The Way of Thinking

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s