Mau Perfeksionis?

Anda yang (pernah) perfeksionis tahu rasanya kalau ada hal kecil saja yang tak beres. Lebih baik mengulang dari nol daripada melihat cacat produksi. Apapun Anda lakukan demi kesempurnaan hasil karya Anda. Apakah itu jelek? Bergantung. Tolok ukurnya ya azas dan dasar itu: kalau memang membantu orang mencapai tujuannya diciptakan, why not mengapa tidak kenopo ora?

Dalam bacaan hari ini Petrus tidak gagal fokus pada ajaran Yesus tentang pengampunan. Ia menyimak baik-baik tema pentingnya pengampunan dan melontarkan pertanyaan kritis: mana batasnya kita bisa mengampuni kesalahan orang lain? Kalau tak ada batasnya, pertama-tama itu susah banget dan, kedua, di mana harga diri kita yang diinjak-injak oleh orang yang selalu mencederai kita, di mana peran edukatif terhadap orang-orang yang tak berbuat adil? Petrus berpikir batas itu adalah angka tujuh, suatu simbol kesempurnaan. Tetapi Yesus bilang tujuh puluh kalinya tujuh kali! Kok isa? Apa landasan Yesus bilang gitu? Dia jelaskan dalam perumpamaannya.

Raja murka kepada orang yang diberinya kelonggaran atas hutang sebesar 6000 kali upah harian atau 50 tahun kerja (Oh, salah! Itu masih harus dikalikan 10 ribu karena 6000 kali upah harian itu baru satu talenta, padahal di teks dikatakan 10 ribu talenta). Kenapa sang raja murka? Karena setelah diberi kelonggaran itu ia malah memenjarakan orang yang berhutang padanya sebanyak 100 dinar, alias 100 hari kerja. Perbandingannya jauh banget! Mungkin seperti 164 ton emas dibanding 30 gram emas. Menurut raja, seharusnya dia yang diberi kelonggaran luas itu juga berbuat yang sama terhadap sesama, tetapi ternyata malah mencekik orang lain. Pantaslah sang raja murka; pengampunannya yang super luas itu tak sampai pada si pemilik hutang 30 gram emas, terhenti pada orang yang berhutang 164 ton!

Angka tujuh puluh kali tujuh kali tampaknya jelas berasal dari Kitab Kejadian (4,23b-24): Aku telah membunuh seorang laki-laki karena ia melukai aku, membunuh seorang muda karena ia memukul aku sampai bengkak; sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat. Ini adalah lingkaran kekerasan, lingkaran balas dendam yang menyentuh titik jenuh. Yesus mengambil angkanya, tetapi mengubah isinya dari lingkaran kekerasan ke lingkaran pengampunan. Tak ada batas untuk pengampunan, sekurang-kurangnya itulah yang kita harapkan dari Tuhan (bdk. bacaan pertama). Akan tetapi, pada kenyataannya, kemurahan hati Allah yang tiada batas itu justru dibatalkan oleh manusia sendiri yang tak mau mengampuni saudaranya (bdk. Mat 6,15). Mungkin benarlah pernyataan when unbridled violence invades our life, everything goes wrong and life disintegrates.

Betapapun sulitnya mengampuni, orang beriman sekurang-kurangnya perlu menjauhi lingkaran kekerasan. Memang kegalauan bisa dimengerti: njuk bagaimana kita bisa mengedukasi orang yang menjahati kita itu? Saya kira jawaban Yesus kembali: dengan mengampuninya. Gak lucu dong kita jadi korban lantas berlagak mengedukasi pelaku. Di situ ada bias pembalasan, bukan lagi murni edukasi. Serahkan saja edukasi pada pihak ketiga dan pada Allah sendiri. Itu yang rupanya tidak klop dengan tendensi kekerasan dalam hati orang. Memang benarlah: melakukan kesalahan, itu manusiawi, dan memberikan pengampunan, itu tindakan ilahi.

Ya Allah, berikanlah kami kerendahan hati, kebesaran hati untuk membiarkan kemurahan hati-Mu menyentuh setiap makhluk. Amin.


HARI SELASA PRAPASKA III
1 Maret 2016

Dan 3,25.34-43
Mat 18,21-35

Posting Tahun Lalu: Revolusi Mental Hukum Mati