Menerima Kado

Saya punya saudara yang kalau menginformasikan kecelakaan atau penyakit yang diderita anaknya itu selalu dengan ungkapan “mendapat hadiah”. Setelah ada keterangan tambahan barulah saya paham bahwa ia atau anaknya punya sakit tertentu. Entah dari mana ia mendapat inspirasi ‘hadiah’ itu, tetapi paradigma itu memang sangat menentukan bagaimana orang menjalani liku-liku hidup dalam kegembiraan batin (bdk. posting Hidup sebagai Hadiah).

Tak sedikit orang mengalami kesulitan untuk memberi hadiah karena dua kategori yang mesti dipenuhinya: fungsional dan artistik. Orang yang telah bersusah payah memikirkan hadiah, memilih, membungkus, memberikannya pada momen yang menurutnya tepat, tentu inginnya orang yang menerima hadiah itu senang dan bisa menggunakan hadiah darinya. Akan tetapi, maksud pemberi hadiah saja tidak cukup. Orang tua yang baik akan meluangkan waktunya bagi anak tatkala disadarinya si anak kelihatan tak senang pada hadiahnya. Mungkin ia akan berusaha mencari kata-kata yang dimengerti anaknya dan pelan-pelan membimbing anaknya supaya mengerti letak keindahan dan kegunaan hadiahnya. Bisa jadi sang anak akan melirik milik anak lain yang mendapat sesuatu yang berbeda, yang menurutnya lebih menarik, dan orang tua akan berusaha meyakinkan sang anak supaya at home dengan hadiahnya sendiri.

Itulah yang dibuat Musa kepada bangsa Israel atas Taurat yang diberikan Tuhan. Ia memberi nasihat, mengingatkan bangsa Israel atas pengalaman hidup mereka yang berpusat pada Taurat, perintah Allah, yang memungkinkan mereka melewati masa sulit dan menikmati janji Allah: bangsa besar manakah yang mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum ini, yang kubentangkan kepadamu pada hari ini? Tetapi… jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu.

Yesus tak punya agenda meniadakan hukum Taurat: Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Ia merealisasikan fungsi yang termaktub dalam Taurat dengan bantuan tafsir guru-guru rohani, tetapi tentu saja terutama berkat Roh Kudus yang menjernihkan tafsir guru-guru rohani itu. Kelak, Yesus (yang disebut Kristus) sendirilah yang kemudian diterima sebagai hadiah Allah. Kitab Suci ‘hanya’ menjadi semacam vade mecum (tak ada hubungannya dengan mesum, bacanya pun: mekum) atau handbook atau manual supaya orang menangkap keindahan dan ‘kegunaan’ Yesus Kristus sebagai hadiah Allah.

Celakanya, beberapa orang malah membanding-bandingkan vade mecum ini dengan Kitab Suci lain. Menurut saya, latah dengan ungkapan baru-baru ini, itu bukanlah perbandingan apple to apple. Bagi Gereja Katolik, Kitab Suci ‘hanyalah’ vade mecum untuk menyingkap hadiah Allah yang dirupakan oleh sosok Yesus Kristus dan tentu saja itu bukan satu-satunya vade mecum. Memang sih ada sebagian orang yang ngotot bahwa vade mecum itu adalah yang tertinggi di seluruh jagad. Tapi itu artinya, jagad kepalanya sendiri. Orang macam ini akan melakukan tindakan bego’ dengan mengutip ayat vade mecum untuk membenarkan ambisi dan tindakan korupnya.

Tuhan, semoga kami dapat menghargai aneka hadiah yang Kauberikan kepada umat manusia. Amin.


HARI RABU PRAPASKA III
2 Maret 2016

Ul 4,1.5-9
Mat 5,17-19

Posting Tahun 2015: Love and Do Whatever You Want
Posting Tahun 2014: Do Wee Need School of Heart?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s