Lalat-Lalat Cinta

Published by

on

Anda pernah lihat kerumunan lalat beterbangan di dekat makanan kesukaan mereka? Pernah dong mestinya. Pernah Anda observasi berapa derajat suhu makanan yang dikerumuni lalat itu? Kalau pernah, mungkin Anda memang peneliti atau cuma kurang kerjaan. Akan tetapi, barangkali hanya dengan cara itu Anda ngeh bahwa lalat takkan mendatangi makanannya ketika makanan itu masih dalam keadaan panas, apalagi sewaktu mubal-mubal mendidih di panci atau penggorengan. Lalat akan datang kalau santapannya sudah lebih dingin.

Konon, St. Efrem, Doktor dan Pujangga Gereja Katolik dari Siria pada abad IV, menganalogikan cinta (cinta lagi cinta lagi) dengan api yang membakar dalam hati: gak ada godaan yang bisa datang mendekat. Menariknya, dia itu seperti kurang kerjaan, menganalogikannya lagi dengan tradisi masak memasak di dunia Timur. Bayangkanlah mereka memasak sup dengan panci besar dan tanpa tutup. Uenak tenan dan yang tertarik pada sup itu bukan cuma orang, melainkan juga lalat. Akan tetapi, lalat itu takkan mendarat pada makanan uenak itu sebelum dingin. Bahkan saat masih panas di tungku itu pun mereka tak berani untuk sekadar bermanuver di atasnya. Begitulah juga hati manusia yang terbakar oleh cinta, takkan tersentuh oleh godaan.

Lah, bukannya malah terbalik ya, Rom? Orang yang terbakar oleh api cinta itu malah kebanyakan membuahkan hasil mengerikan: pelecehan, pemerkosaan, kekerasan seksual! Itu kan berarti malah godaannya lebih kuat dan orang jatuh dalam godaan! Eaaaa…. mari kita kurangi kerjaan. Kalau mau, silakan klik posting Gerald G. May on Desire. Di situ disodorkan dua hal yang terhubung dengan desire, hasrat, gairah, gejolak yang membara dalam hati manusia: cinta dan rahmat. Hasrat, gairah itu sangat manusiawi dan orientasinya tertuju pada cinta, yang jadi raison d’être hidup manusia.

Sayangnya, orientasi saja tidak cukup. Orang butuh rahmat juga untuk sampai ke sana, butuh hidayah, dan itulah yang membuat segala kebaikan dimungkinkan terjadi. Tanpa rahmat, bebakaran dalam hati tadi hanyalah kemenyan untuk godaan roh jahat: hasrat, desire-nya hanya memenuhi kriteria keberdosaan yang sudah disinggung pada hari Minggu yang lalu. Yang menata secara kreatif desire itu adalah cinta, yang tak pernah bersumber dari upaya manusia sendiri. Tak sedikit orang tersesat pada upaya dan kemampuan sendiri sehingga cinta direduksinya sebagai teknik manipulatif, yang menempatkan hal-hal lainnya sebagai objek.

Pada tempat cinta meraja, tak ada ruang bagi iblis. Orang yang hatinya terbakar oleh cinta sejati tahu benar bagaimana ia mengarahkan bahkan libido kekuasaannya: bukan untuk menundukkan kekuasaan orang lain, melainkan untuk menularkan nilai-nilai keadilan dalam struktur kekuasaan yang ada. Maka, kalimat terakhir Yesus menegaskan tolok ukur bagi siapa yang bersama dia: bukan soal agama atau atribut religius, melainkan soal perwujudan nilai keadilan yang terus menerus perlu diperjuangkan bersama.

Ya Allah, mohon rahmat supaya cinta-Mu senantiasa menggerakkan hidup kami. Amin.


HARI KAMIS PRAPASKA III
3 Maret 2016

Yer 7,23-28
Luk 11,14-23

Posting 2015: Awalnya Inspiratif Sih…
Posting 2014: It’s Hard to Listen…

Previous Post
Next Post