Galau Lahir Batin

Kamar berantakan bisa saja menandakan hidup batin seseorang juga berantakan dan kamar tertata rapi menandakan bahwa seseorang punya pembantu rumah tangga yang handal, hehehe (pokoknya jangan melihat kamar saya saat-saat ini deh). Senior saya dulu mengatakan begitu: menata yang kelihatan saja gak becus, gimana mau dipercaya untuk menata yang gak keliatan?! Maksudnya sih menyindir saya dan teman-teman yang tampaknya tidak berdoa, sibuk ngurusi ini itu dan tak punya waktu hening, bahkan waktu hening pun masih diisi dengan ngorok

Saya tidak begitu baper atas sindiran itu karena ada kandungan kebenaran yang memang perlu saya hormati: pilihan kacau atas hal-hal yang kelihatan menandakan kacaunya kriteria pemilihan seseorang. Tak perlu orang melakukan tes psikologi untuk mengetahui apakah ia punya pertimbangan sehat terhadap prioritas hidupnya. Lihat saja dari pilihan-pilihan yang diambilnya atas barang-barang atau hal-hal yang kelihatan. Ada segelintir orang yang tidak mau memanfaatkan posisi atau jabatan orang tuanya demi kepentingan bisnisnya. Ada sebagian orang lain yang senang mbribik penguasa untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Ada satu dua orang yang punya standar tertentu untuk memilih pakaian, tas, fasilitasnya. Sebagian lainnya tak banyak pikir mengenai penampilan. Itu semua terlihat dari apa yang dipilihnya.

Rutilio Grande dalam film Romero mengatakan kurang lebih demikian: Aku tak bisa mencintai Tuhan, yang tak kelihatan, jika aku tak mencintai saudara-saudariku yang kelihatan. Andaikan Tuhan itu pribadi yang pantas kita cintai, di pusat hati-Nya beradalah saudara-saudari kita, sesama manusia. Maka, secara teoretis, umat beriman mencintai Tuhannya, tetapi secara praktis, umat beriman mencintai sesamanya. Mungkin secara sederhana bisa dipahami dengan analogi upacara bendera.

Orang-orang cèmèn atau sableng bin kurang genep (halah nongol lagi) menuduh orang yang memberikan hormat kepada bendera sebagai penyembah berhala. Tapi mungkin mereka tak pernah merasakan bahwa penghormatan kepada bendera dengan menyanyikan lagu kebangsaan menimbulkan kebanggaan, semangat, dan tekad untuk mencintai, membangun bangsa. Tentu saja, kecintaan kepada bangsa tak mungkin ditunjukkan dengan ritual hormat kepada bendera sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya itu, bukan? Cinta itu baru nyata jika warga, yang dituduh menyembah berhala ini, terlibat dalam pembangunan bangsa dengan peran masing-masing: mewaspadai paham radikal, memberdayakan orang pinggiran, membersihkan gorong-gorong di musim hujan, menularkan semangat hidup kepada orang-orang muda yang loyo, dan sebagainya.

Orang tidak dikatakan mencintai Tuhan hanya karena ritual atau liturgi yang dibuatnya. Itu hanyalah salah satu bentuk penghormatan atau penyembahan Allah yang transenden. Cinta kepada-Nya hanya mungkin terwujud dalam cinta kepada sesama, kepada seluruh makhluk, kepada ciptaan. De facto, kebanyakan orang memperalat ciptaan untuk cinta kepada diri sendiri sehingga tak heranlah bahwa bahkan Tuhan tak lagi dicintai, tetapi dijadikan objek pemujaan diri sendiri, diperalat untuk pemenuhan cinta diri.

Ya Allah, semoga cintaku senantiasa bermuara pada-Mu. Amin.


HARI JUMAT PRAPASKA III
4 Maret 2016

Hos 14,2-10
Mrk 12,28b-34

Posting Tahun 2015: Cuma Ada Satu Cinta
Posting Tahun 2014: Ujung2nya Duit atau…