Doa Pendosa, Dosa Pendoa

Seseorang menjadi baik hanya sampai saat ia menyadari dirinya baik (saat roh jahat mengajaknya jadi arogan). Begitu juga ia menjadi jahat hanya sampai saat ia menyadari dirinya jahat (saat roh baik mengundang pada pertobatan). Orang beriman berproses di antara keduanya dan kualitas yang membuatnya stabil dalam tegangan itu adalah belas kasih, kemurahan hati. Itulah yang tak dimiliki orang yang dalam bacaan hari ini ditegur Yesus: mereka yang menganggap diri benar dan memandang rendah orang lain.

Kerap kali orang membuat perbandingan dengan melihat kesalahan orang lain dan menilai mereka dengan aneka wujudnya: “Untung aku dididik orang tua yang taat beribadah”, “Syukurlah aku tidak ikut-ikutan terjerumus pergaulan bebas seperti tetanggaku”, “Sudah kukasih tahu tetap ngotot, sekarang rasakan sendiri akibatnya”, dan sebagainya. Bahkan, orang bisa jijik terhadap orang lain yang dianggapnya salah, kafir, berdosa, dan sejenisnya, seolah-olah yang tak berdosa itu lebih baik daripada orang berdosa.

Loh, Romo ini bagaimana?! Ya memang orang tak berdosa itu lebih baik daripada orang berdosa, kan?
Iya betul, tapi itu kan menurut orang yang merasa tak berdosa.

Bagaimana mungkin kita sampai hati merasa diri lebih baik dari anak-anak jalanan yang gak jelas juntrungannya hanya karena kita terlahir dari keluarga berada? Kok bisa-bisanya kita merasa lebih baik dari kelompok elge bete hanya karena kita tak punya orientasi seksual terhadap sesama jenis? Dari mana sih sebetulnya datangnya penilaian “lebih baik” itu? Mengapa orang tidak merasa cukup dengan penilaian bahwa A dan B berbeda dan mesti memberi penilaian bahwa A lebih baik dari B atau sebaliknya?

Itu kiranya merupakan tendensi wajar setiap makhluk bermoral. Akan tetapi, apa tidak sebaiknya kita melihat hidup ini dengan sudut pandang yang lebih luas? Moralitas, betapapun berkaitan dengan hidup nyata, mengasumsikan suatu kehidupan seperti yang ‘seharusnya’ terjadi. Ia bicara soal das Sollen, apa yang semestinya direalisasikan. Sayangnya, hidup kita ini bukan hanya das Sollen itu dan rupanya orang mencampuradukkannya dengan das Sein, apa yang senyatanya terjadi. Dari kaidah penalaran saja, sebetulnya tidak benarlah menarik kesimpulan normatif atas dasar premis das Sein.

Misalnya, Tiwul adalah manusia beragama, Tiwal juga manusia beragama. Tiwul berdoa. Tidak bisa diambil kesimpulan normatif dari premis-premis deskriptif itu: Seharusnya Tiwal berdoa. Mungkin saja benar bahwa Tiwal seharusnya berdoa, tetapi keharusan itu tidak muncul dari fakta bahwa Tiwul (yang juga manusia beragama) berdoa. (Lah… ini kok jadi kuliah logika ya?) Penalaran yang tidak lurus itulah yang bikin runyam dan menyibukkan orang pada problem siapa paling baik atau siapa lebih baik.

Terlepas dari dalil penalaran, kembali ke paragraf awal, menimbang lagi buku harian PSK Kalijodo (RIP), tolok ukur kebaikan tidak terletak pada tataran sensasi (apa yang bisa ditangkap dengan indra), tetapi pada relasi batin setiap pribadi dengan Allah yang esa itu. Relasi ini agaknya tak bisa dievaluasi bahkan dengan lie detector. Ini murni bisnis Allah dan setiap pribadi manusia yang unik dan karena itu tak bisa dibanding-bandingkan, apalagi untuk membenarkan diri dan merendahkan pribadi lain.

Tuhan, mampukanlah kami berdoa sebagai pendosa, bukan berdosa sebagai pendoa. Amin.


HARI SABTU PRAPASKA III
5 Maret 2016

Hos 6,1-6
Luk 18,9-14

Posting Tahun 2015: Cermin Mana Cermin
Posting Tahun 2014: Saat Tuhan Tiada…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s