Revolusi Mental Hukum Mati

Tahun lalu ada kasus pembunuhan sadis seorang gadis yang menyulut perhatian publik dan bahkan dipakai untuk menyampaikan pesan moral supaya orang mau memaafkan (meskipun tetap menuntut keadilan hukum). Dengan segala hormat kepada para korban, kiranya setiap orang tetap perlu meneliti batin apakah ia masih memelihara mental dari kultur kematian. Dengan kerangka refleksi ini, korban tidak hanya terletak pada keluarga yang kehilangan anak gadis mereka, tetapi juga dua sejoli yang jelas paling kentara memanifestasikan kultur kematian itu.

Adalah dorongan manusiawi untuk merespon kejahatan dengan kejahatan sedangkan bisikan ilahi senantiasa menggemakan pengampunan: membalas kejahatan dengan kemurahhatian atau kebaikan. Pengampunan macam ini, logisnya, di mata dunia manusiawi tadi, adalah indikasi kelemahan. Orang yang mau mengampuni dianggap tak berdaya atau bahkan dianggap takut melawan.

Akan tetapi, pengampunan yang sebenarnya justru tidak mengalir dari aneka rasa, apalagi emosi. Pengampunan adalah suatu pilihan tindakan rasional untuk memutus rantai kekerasan hati manusia. Maka dari itu, ini pasti bukan soal melupakan kesalahan orang lain atau kembali berelasi seolah-olah seperti tidak terjadi apa-apa. Relasi bisa saja berubah, tetapi orang yang mengampuni itu sungguh-sungguh memang mencintai pihak yang mencederai hidupnya tanpa syarat. Apakah itu mungkin? Why not?

Petrus, sebagaimana murid lainnya, dan pada umumnya manusia, cenderung mau mencari atau menentukan batas. Tetapi jelaslah bahwa gurunya menghancurkan batas itu. Pengampunan, sebagai syarat minimal cinta, juga adalah tak terbatas. Ini tidak sama dengan membiarkan kekerasan merajalela. Ini adalah soal memberi peluang seluas-luasnya bagi siapa saja untuk meminimalisir kultur kematian: mekanisme dosa, perpecahan, balas dendam.

Loh, apa ya namanya itu tidak membiarkan kejahatan terus mendapat peluang? Peluang itu muncul bukan karena pengampunan, melainkan karena setiap orang tak peduli lagi untuk menularkan kultur kehidupan bagi sesamanya. Lha wong penjara jadi sentra perdagangan narkotika kok yang disalahkan pengampunannya! Ini logika dari planet manakah? Bukankah itu indikator jelas bahwa orang-orang yang menganggap diri waras (entah sipir, kepala penjara, pengunjung, menteri, masyarakat atau presidennya) itu tak punya perhatian pada penularan kultur kehidupan itu? Orang-orang waras ini berorientasi pada budaya pemenang: dapat duit, posisi, jaminan masa depan, kekuasaan, dan sebagainya. Maka, yang bertentangan dengan itu, untuk apa diupayakan?! Ini adalah bagian dari kultur kematian dan kalau mental hukum mati itu hidup di kepala setiap orang, ya tentu omong kosong yang namanya efek jera! Orang sudah mati duluan sebelum bertobat, iya kan?

Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk sungguh bertobat supaya juga mampu mengampuni sesama. Amin.


HARI SELASA PRAPASKA III
10 Maret 2015

Dan 3,25.34-43
Mat 18,21-35

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s