Kenapa Agama Arogan?

Pesan perumpamaan mengenai orang kaya dan Lazarus kemarin jelas: keberhasilan atau kegagalan kepemilikan benda-benda duniawi dan sensasinya di dunia ini berhenti pada saat orang mati. Yang tidak berhenti cuma sekat, jurang atau tembok batas yang dibangun orang pada masa hidupnya. Jurang ini tak terseberangi juga di alam maut, dan tak bisa dihancurkan. Cara menghancurkannya ya justru pada saat orang masih hidup di dunia sini; kalau sudah di dunia sana… entah bagaimana menghancurkan jurang itu. Sebagian orang memercayai kekuatan doa dari dunia sini bisa mengetuk kemurahan hati Allah. Akan tetapi, perumpamaan kemarin tidak dimaksudkan untuk membahas kemungkinan itu. Cukuplah dicamkan dalam hati umat beriman bahwa Allah memang tidak menghendaki adanya jurang pemisah, tak ada master plan yang menaruh target supaya alam derita itu dipenuhi banyak orang. Dalam Kitab Suci Kristen dapat dimengerti bahwa Allah ingin menjadi Bapa bagi semua orang, apapun suku, agama, ras, dan penggolongan lainnya.

Jadi, tak ada masalah bahwa ada orang kaya dan orang miskin, ada orang pintar dan orang bodoh, ada orang berhasil dan orang gagal, ada orang kuat dan orang lemah, ada penguasa dan rakyat, dan seterusnya. Masalahnya ialah di antara kedua kelompok itu dibuat sekat pembatas, jurang pemisah yang tak memungkinkan akses dari kelompok satu ke yang lainnya. Yang kuat makin kuat, yang lemah makin terjerembab; yang pandai semakin melejit, yang bodoh semakin jadi bulan-bulanan orang licik; yang kaya semakin menggurita, yang miskin semakin jadi komoditi politik; begitu seterusnya jika jurang pemisah dipertahankan, sifatnya akan langgeng sampai ‘dunia sana’ karena memang basis pemisah itu asalnya dari pikiran orang tentang ‘dunia sana’. Akhirnya malah bisa jadi self-fulfilled prophecy.

Meskipun pesan perumpamaan itu jelas, belum tentu lho orang menangkapnya, termasuk murid-murid Yesus sendiri! Sudah berkali-kali diindikasikan bahwa Allah tak menginginkan keterpecahbelahan dalam Kerajaan-Nya, eh lha kok malah mulai berwacana tentang siapa yang terbesar dari antara mereka! Hmmm…. apakah murid-murid Yesus itu bodoh ya? Bisa jadi, seperti orang-orang sekarang juga sih, seolah-olah kemampuan untuk mengolah pesan itu belum sampai pada tahap akhir dalam taksonomi Bloom. Tak hanya berhenti dengan wacana siapa yang terbesar di antara mereka, para murid itu juga mempersoalkan ‘agama’ lain! Itu kok ada orang yang bukan kelompok kita mengusir roh jahat dengan nama Guru! Harus dilarang! Harus dinyatakan penistaan agama! Harus dihukum!

Itulah benih-benih konstruksi jurang pemisah yang tak banyak gunanya untuk dunia sini (kecuali untuk konsumsi politik) dan tak ada relevansinya untuk dunia sana. Jurang pemisah itu semestinya dihancurkan di dunia sini dalam dialog: yang punya akses pengetahuan membuka kran pengetahuannya kepada mereka yang tak berpunya, yang punya modal ekonomis membuka peluang orang tersingkir, yang punya kuasa menggunakan kekuasaannya untuk melayani yang tak punya kekuasaan, yang kuat memakai kekuatannya untuk membantu yang lemah, dan seterusnya. Jika tidak begitu, sikap arogan terpupuk dalam diri ‘si kaya’.

Agama arogan, celakanya, bukannya membuat pemeluknya percaya diri, melainkan justru menjerumuskan pengikutnya dalam kompleks rendah diri dan defensif, bahkan ofensif terhadap agama lain.

Tuhan, jadikanlah kami rendah hati seperti Engkau, yang memberi kami kebebasan. Amin.


SENIN BIASA XXVI
26 September 2016

Ayb 1,6-22
Luk 9,46-50

Posting Senin Biasa XXVI B/1 Tahun 2015: Pancen Ironis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s