Much Pain No Gain

Bersusah payah demi mengenyam hasil yang menggembirakan bukanlah barang baru. Kita kenal ungkapan jer basuki mawa beya atau no pain no gain. Orang tak butuh agama untuk menyadarinya. Untuk mencapai hasil yang baik memang diperlukan pengorbanan. Maka, mudah dipahami bahwa normalnya, kalau orang mau bersusah payah, itu artinya ada kesuksesan, keberhasilan, kemuliaan yang hendak dicapainya. 

Mari lihat agama dalam bentuk asalinya sebagai fenomena yang menghidupi adagium seperti itu: orang berbondong-bondong membawa hewan, mendaki gunung berapi dan mengorbankan hewan itu dengan harapan bahwa alam ini mau bersahabat dengan manusia. Orang memberikan sesaji supaya roh penjaga bumi ini mau berdamai dengan manusia. Begitu seterusnya dan bisa dipahami suatu harapan manusia bahwa untuk mencapai kedamaian, ketenangan hidupnya, mereka butuh semacam korban yang dituntut dari mereka. Siapa yang menuai hasil pengorbanan itu? Ya mereka sendiri tentunya. Bahwa ritual korban itu bisa memberi dampak positif terhadap makhluk lain ya oke-oke saja, tetapi pokoknya orang pertama-tama mengorientasikan pengorbanannya demi keselamatan dirinya.

Yesus ini rada-rada gak waras: naik ke Yerusalem justru karena sadar dia akan ‘disembelih’ di Yerusalem. Ia akan dihabisi di sana oleh orang-orang yang sudah sejak lama membencinya, mengincarnya. ‘Penghabisan’ ini kadang dirindukan sebagian orang karena tak tahan aneka teror dan beban hidup mereka: inginnya lenyap saja dari dunia ini, menghilang, lesap, tak terlihat oleh orang lain. Begitu juga jalan pikiran yang ada dalam benak Ayub: ngapain juga hidup kalau cuma menjalani rentetan nasib sial atau penderitaan!

Barangkali Yesus pun punya jalan pikiran seperti itu, tetapi de facto yang dipilihnya ialah naik ke Yerusalem: ia mengambil jalan penderitaan, penolakan, caci maki, ludah, fitnah, cambuk, paku, jalan berbatu, menanjak. Jer basuki mawa beya dan no pain no gain tidak berlaku baginya. Beya dan pain itu berujung pada penghabisan hidupnya, tak ada basuki dan gain yang dia peroleh, wong ujung-ujungnya mati! Much pain no gain!

Loh, Rom, kan dia bangkit? Itu kan kemuliaan?
Heheheh… itu kan kata agama tertentu. Lagipula, kalau dia bangkit, itu malah menegaskan bahwa dia mati, alias penderitaannya itu selesai dengan kematian. Kemuliaan setelah kematiannya ya gak ada relevansinya untuk hidup sebelum kematiannya donggak usah dibahas, wong hidup konkret kita ini bukan hidup setelah kematian! Bukankah yang penting justru hidup sebelum kematian itu?! Alih-alih mikirin hidup sesudah mati, bukankah lebih afdol mempertanyakan adanya kehidupan sebelum kematian?

Justru itulah persoalannya: bagaimana Yesus memaknai penderitaan dan kematian sebagai konsekuensi pilihannya untuk merealisasikan kehidupan sebelum kematian itu? Mungkin baik juga dipertimbangkan kata-kata (Mahatma?) Gandhi. Konon dia pernah curhat kira-kira begini: Saya merasa tak mampu membenci. Melalui disiplin panjang dengan dasar doa, sekurang-kurangnya 46 tahun saya coba mengasihi semua orang. Satu-satunya cara menghukum orang yang saya kasihi adalah menderita baginya.

Yesus mengkritik tawaran muridnya untuk menghancurkan mereka yang menolaknya. Ia menderita untuk mereka dan justru di situlah adanya hidup sebelum kematian.

Tuhan, mohon rahmat kekuatan supaya kami memegang komitmen cinta kepada-Mu yang menuntut pengorbanan cinta diri kami. Amin.


SELASA BIASA XXVI
Pesta Wajib S. Vinsensius a Paulo
27 September 2016

Ay 3,1-3.11-17.20-23
Luk 9,51-56

Posting Selasa Biasa XXVI Tahun 2014: Pilih Rute Yang Mana Ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s