Cari Slamet

Saya percaya takdir tetapi cuma berlaku untuk kelahiran dan kematian (itu juga bukannya tanpa catatan). Di antara keduanya mungkin saja Tuhan intervensi, tetapi intervensi itu ada dalam bargaining power dengan pilihan-pilihan manusianya sendiri: kadang power Tuhan lebih kuat, kadang determinasi manusia lebih kuat. Loh, berarti Tuhan itu ya gak mahakuasa dong yawong bisa kalah juga oleh determinasi manusia?! Eaaa… itu kalau pikiran kita berpola ‘menang-kalah’. Sayangnya, pikiran orang beriman tidak berpola ‘menang-kalah’. Orang beriman punya pola pikir ‘kooperatif’: hidup ini adalah kerja sama Pencipta dan ciptaan-Nya.

Oleh karena itu, bagaimana jadinya hidup ini ya bergantung pada dinamika relasi dua pihak itu. Jika relasinya baik-baik saja, mestinya hidup manusia ya baik-baik saja, dan sebaliknya, jika relasi itu hancur, hidup manusia mestinya ya hancur. Hmm, berarti bencana banjir bandang itu hukuman Tuhan karena relasi yang hancur itu ya?

Mbok gak usah naif, tak perlu nambah persoalan dengan mengadili Tuhan sebagai hakim penghukum segala. Tuhan tentu menginginkan kebaikan seluruh umat manusia, tetapi celakanya, manusianya sendiri tidak menginginkan kebaikan seluruh umat manusia. Manusia menginginkan kebaikan dirinya sendiri, tanpa pikir kebaikan bersama. Manusia cuma pikir ekonomis dan abai terhadap dimensi ekologis, antropologis atau kultural. Begitulah, manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Perspektifnya gak sampai, dan repotnya, ia tak mau perspektifnya diperluas, merasa diri cukup dengan sains dan terhadap pendekatan lainnya cuma bisa abstain.

Maka, bencana banjir bandang tak perlu (dan tak bisa) dihubungkan dengan kemurkaan Tuhan, tetapi dengan ketidakpedulian manusia terhadap kehendak Allah bagi seluruh umat manusia tadi. Dalam arti itulah, rusaknya relasi dengan (kehendak) Allah menentukan dinamika hidup manusiawi sendiri, terlepas dari apakah Tuhan intervensi atau tidak. Anyway, kalau Tuhan intervensi, saya percaya, orientasinya tentu ke arah kemaslahatan bersama, bukan demi kepentingan individual atau kelompok semata. Taruhlah ada satu orang yang secara ajaib selamat dari bencana alam yang terjadi karena ketololan manusia sendiri. Itu menghebohkan, mengagumkan, mungkin meneguhkan kepercayaan orang lain tentang kuasa Tuhan.

Akan tetapi, setelah itu, so what? Apa yang dibuat orang yang mengalami mukjizat itu? Kembali sibuk memperkaya dirinya? Bisa jadi, itu lebih menggiurkan dan tak menuntut risiko tinggi; tetapi ya begitulah yang dicari banyak orang lain, akeh tunggalégolek slamet dhéwé-dhéwéGak butuh mukjizat, bukan, untuk orientasi seperti itu?

Memang penderitaan tak perlu dicari, pada saatnya akan tiba, tetapi kalau orientasi hidup orang semata untuk menghindari atau menjauhi penderitaan, ia gagal membangun kerja sama dengan Allah.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami dapat memaknai jalan penderitaan yang perlu kami tempuh. Amin.


JUMAT BIASA XXV
23 September 2016

Pkh 3,1-11
Luk 9,18-22

Posting Jumat Biasa XXV B/1 Tahun 2015: Mari Berkurban Hari Kedua
Posting Jumat Biasa XXV Tahun 2014: Seperti Apa Roda Hidupmu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s