Mari Geleng-Geleng

Kata teman saya, orang bisa menurunkan berat badan tanpa menyusahkan diri dengan fitness, planking, jogging, dan sejenisnya. Cukup dengan cara menggeleng-gelengkan kepala asal dilakukan pada saat yang tepat atau mendapat kairosnya. Kapankah kairosnya itu? Pada saat ia ditawari makan. Tentu saja, itu diandaikan ada konsistensi antara gelengan kepala dan tindakan menolak makan.

Teks hari ini omong soal konsistensi itu: kalau ya katakan ya, kalau tidak katakanlah tidak; apa yang lebih daripada itu berasal dari roh jahat. Apa mau dikata, pada kenyataannya memang yang terjadi dalam hidup manusia adalah tegangan antara ya dan tidak. Ada sesuatu yang diinginkan dari ‘ya’ tetapi tidak mau meninggalkan hal yang terkandung dalam ‘tidak’. Orang mau cari jalan tengah atau moderasi, bukan untuk mendapatkan makna, melainkan untuk membela kepentingan egoisnya. Jadi, ini bukan soal moderasi untuk mengakomodasi kepentingan bersama, melainkan soal inkonsistensi orang pada nilai atau komitmen yang dipegangnya. Dengan kata lain, ini adalah soal integritas, yang mengandaikan juga ketulusan hati orang.

Lagi, teks hari ini juga menyajikan perspektif yang lebih dalam daripada sekadar memenuhi perintah agama: jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Undangan yang ditawarkan hari ini lebih dahsyat: gak usahlah bersumpah-sumpah demi apapun karena kamu itu dalam semesta ini cuma seuprit, tak punya kuasa apapun untuk mengendalikan semesta ini. Ngeri kan, bersumpah jabatan di bawah Kitab Suci, menyebut-nyebut nama Allah juga, dan jebulnya korupsi, kolusi, nepotis dan merugikan negara? Apa itu bukan penistaan namanya?

Memang dalam banyak upacara bisa terjadi aneka penistaan terhadap nilai-nilai yang digembar-gemborkan dalam upacaya itu. Apakah lantas upacara mesti dihapus? Ya tidak, bahkan meskipun saya bukan penggemar upacara dan orang muda yang masih di sekolahan itu tak suka upacara [kecuali singgung-singgung atau ada unsur pacarannya]. Formalisme kan tidak bergantung pada wujud melulu: upacara, protokol, ritual, dan sebagainya. Kalau upacara dihapus pun, kecenderungan formalisme itu tetap ada dan bisa mencari bentuk-bentuk baru dalam ranah privat maupun publik. Jadi, meskipun sumpah jabatan dihapuskan misalnya, tak ada jaminan bahwa orang yang memegang jabatan publik itu punya integritas atau konsistensi. Integritas, komitmen, ketulusan, tidak terikat pada bentuk formal tertentu, tetapi melekat pada karakter orang.

Kalau begitu, poinnya bukan bahwa orang boleh atau tak boleh bersumpah, melainkan pada komitmen, integritas, dan ketulusan yang bersangkutan. Landasannya ada di dalam diri (otonom), bukan sesuatu yang di luar. Kalau terpaksanya bersumpah, orang melandasinya dengan ketulusan: ya katakan ya, tidak katakan tidak. Tak sedikit orang sulit berkata ‘tidak’ dan kalaupun mengatakannya, lalu memberi penjelasan tambahan, yang malah bisa jadi merupakan kompromi. Ini bisa jadi indikasi orang yang belum berdamai dengan dirinya, belum berdamai dengan Allah dan di mana orang tak berdamai dengan Allah, di situ kepentingan egois dijunjung dan cinta diri dibela, bahkan meskipun diberi aneka label mulia.

Ya Allah, berilah kekuatan supaya kami sanggup menanggalkan cinta diri kami. Amin.


Sabtu Biasa X A/1
17 Juni 2017

2Kor 5,14-21
Mat 5,33-37

Sabtu Biasa X B/1 2015: Emas Murni Ada. Hati Murni?
Sabtu Biasa X A/2 2014: Pempimpin Yang Bekerja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s