Komuni Pendosa

Pernah dengar orang merasa tak layak masuk tempat ibadat karena hidupnya yang gelap berlumuran lumpur dosa? Pernah tahu ada orang Katolik yang tak mau berkomuni karena merasa diri tak pantas (mungkin karena merasa diri terlalu berdosa)? Kalau suatu hari Anda bertemu dengannya, bisa Anda bisikkan atau teriakkan kepada telinganya,”Kamu takkan pernah pantas, sebagaimana semua orang tak ada yang pantas di hadapan Allah.”

Beberapa orang Katolik yang kejam bisa menghakimi orang Katolik lainnya sebagai pendosa yang tidak boleh menerima hosti suci karena hidupnya amburadul (punya istri banyak, jadi preman yang hobi mabuk-mabukan dan memukul orang, melakukan KDRT, melakukan aborsi, dan sebagainya). Kalau mau berkomuni, orang amburadul itu mesti mengaku dosa dulu. Betulkah begitu?

Ya betul, menurut aturannya memang begitu. Akan tetapi, kiranya lebih baik bahwa orang dengan rendah hati melihat aturan agama sebagai manifestasi harapan dan iman yang disikapi dengan belas kasih juga. Sama sekali tidak untuk membatalkan aturannya, tetapi untuk melihat aturan itu pertama-tama sebagai undangan Allah yang mengikat hati nurani orang, bukan mengikat kaki-tangan-mulutnya. Maka, saya memang punya problem dengan pengumuman di gereja Katolik bahwa yang boleh maju ke depan untuk menerima komuni suci adalah mereka yang tak terhalang perkawinannya, misalnya; atau mungkin lebih halus lagi: yang boleh menerima komuni adalah mereka yang sudah dibaptis secara Katolik. Apa ya ‘harus begitu’?

Andaikanlah ada orang non-Katolik ikut perayaan Ekaristi dan tahu-tahu mak bedunduk ikut maju dan tahu persis apa yang mesti dibuat untuk menerima hosti suci sehingga imam atau prodiakon ‘tertipu’. Apakah kira-kira Tuhan Allah bermasalah dengan itu? Masalahnya pasti tidak terletak pada penistaan hosti suci, tetapi pada nurani orang yang bersangkutan, yang telah mengelabui imam atau prodiakon yang membagikan hosti kudus itu. Maka, kalau tahu orangnya, bisa ditanyakan langsung (bukan berarti on the spot) mengapa ia ikut antri dan diberi penjelasan seperlunya. Kalau tidak punya akses untuk itu, barangkali cukup berdoa saja dalam batin,”Tuhan, ampunilah ia karena ia tak tahu apa yang diperbuatnya.”

Bukan kompetensi blog ini untuk berwacana mengenai boleh tidaknya orang non-Katolik menyambut komuni. Akan tetapi, ada kalanya, ketika orang mendengarkan sungguh hati nuraninya, pengumuman larangan menerima komuni bagi mereka yang non-Katolik, apalagi yang status perkawinannya bermasalah, itu superfluous bin lebay. Orang waras ya tahulah bahwa ritual agama itu berlaku untuk pemeluk agama yang bersangkutan. Sudah didoakan sebelum komuni bahwa penyambutnya tak pantas dan itu artinya, komuni suci bukan hadiah bagi mereka yang merasa diri suci tanpa dosa (apa perlunya orang tanpa dosa menerima Tubuh Kristus?), melainkan justru santapan bagi para pendosa supaya bertobat, supaya semakin solider dengan Allah yang mengundang siapa saja untuk bertobat. Ini bukan hadiah akhir semester karena capaian kesucian orang Katolik, melainkan undangan supaya orang Katolik nan penuh dosa itu bersama siapa saja, yang berkehendak baik, mewujudkan Kerajaan Allah.

Ya Tuhan, mohon rahmat keterbukaan hati supaya kami menjadi anggota Tubuh dan Darah Kristus. Amin.


HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS A/1
18 Juni 2017

Ul 8,2-3.14b-16a
1Kor 10,16-17
Yoh 6,51-58

Posting Tahun C/2 2016: Broken Bread
Posting Tahun B/1 2015: Awas Takhayul
Posting Tahun A/2 2014: Tubuh Kristus Kok Dimakan? *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s