Tatap Mata Saya

Ini berdasarkan kisah nyata. Andaikanlah Anda laki-laki generasi millennial (gampangnya: lahir dalam rentang dua dekade setelah 1980) dan ketika Anda mengikuti ritual doa dengan berlutut dan mata terbuka lantas Anda dikerubuti oleh rombongan perempuan berbikini two-piece (opo to kuwi?) yang sedang berdemonstrasi memprotes agama Anda yang melarang kelompok LGBT dan tiba-tiba…. dhuarrrr….. salah satunya mendekati Anda dan membuka atasannya dan menertawai Anda bersama teman-temannya! 

Bagaimana mau menerapkan teks bacaan hari ini (siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu) pada situasi itu? Sumonggo Anda imajinasikan sendiri, tetapi yang hendak saya bagikan adalah reaksi seorang lelaki millennial yang bisa dipakai untuk mengerti juga pesan bacaan hari ini. Orang muda ini tidak membalas tindakan perempuan itu dengan membuka bajunya, tetapi menatap mata perempuan yang melampiaskan kemarahannya dengan berekshibisi itu. Ada apa di balik mata perempuan itu? Orang muda ini melihat kekerasan yang menimpa perempuan itu. Intinya sederhana: ini perempuan-perempuan yang latar belakang hidupnya menunjukkan absennya cinta. Orang muda ini dibantu orang lain untuk keluar dari keroyokan perempuan-perempuan defisit cinta itu tetapi ia mendoakan mereka supaya Allah menyentuh mereka dengan cinta-Nya sendiri.

Hukum balas dendam dihidupi oleh perempuan-perempuan yang melakukan kekerasan seksual itu. Mereka menyerang otoritas yang mengkritik gaya hidup mereka, yang mereka bangun sebagai pemberontakan atas masa lalu yang begitu keras. Orang muda yang menerawang mata perempuan itu tidak mempraktikkan hukum balas dendam, dan kekerasan berhenti sampai ia meninggalkan mereka. Tentu saja bisa jadi rombongan sakit hati itu menyergap laki-laki lain yang bisa dijadikan objek protes mereka.

Ayat Kitab Suci tentang pipi kanan pipi kiri ini sudah terlalu kerap dipersoalkan karena mengindikasikan orang yang menerapkannya adalah orang rendahan yang tak punya harga diri, menyerah, tak bisa melawan ketidakadilan yang menimpa dirinya. Akan tetapi, jika dipertimbangkan si penuturnya pada lain kesempatan (kisah sengsara dari tulisan Yohanes misalnya), jelaslah poinnya bukan di situ. Sewaktu ia ditampar atau dipukul, ia bukan cuma memberikan pipi kanan kirinya, melainkan juga meminta alasan dari mereka yang menamparnya. Permintaan alasan itu adalah perlawanan terhadap tindakan tak adil yang diterimanya. “Jikalau kataku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kataku itu benar, mengapakah engkau menampar aku?”

Orang beriman menggumuli hidup bukan semata dengan mentalitas duniawi, hukum sebab-akibat, aksi-reaksi, melainkan dengan mata yang menembus realitas terdalam, melihat latar belakang yang tak dilihat oleh orang tak beriman. Tentu saja orang muda millennial itu melihat hukum sebab-akibat di balik kisah hidup perempuan yang menyergapnya, tetapi tanggapannya terhadap serangan perempuan itu tidak dilandaskannya pada hukum sebab-akibat. Selalu ada kemungkinan bahwa di balik musuh yang keras itu, ada sisi kemanusiaannya yang rapuh, sebagaimana teroris sangar pun sebetulnya adalah manusia rapuh yang tak sanggup mengasimilasi ajaran agamanya. Ia mendoakannya.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami mampu menanggalkan kultur yang mendewakan pelunasan dendam dan merusak hidup kami sendiri. Amin.


SENIN BIASA XI A/1
19 Juni 2017

2Kor 6,1-10
Mat 5,38-42

Senin Biasa XI C/2 2016: Dah Salah, Ngotot Lagi
Senin Biasa XI B/1 2015: Otak di Balik Hukum

Senin Biasa XI A/2 2014: Agama Modus, Masyarakat Cerdas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s