Dah Salah, Ngotot Lagi…

Perkawinan apa yang menjengkelkan, menyebalkan, atau menjijikkan? Silakan cari sendiri tetapi ini jelas bukan soal perkawinan antarlelaki atau antarperempuan, melainkan perkawinan tertentu antara unsur-unsur moral dan pengetahuan dalam diri seseorang. Pengetahuan di sini bukan semata soal IQ atau hasil TPA-nya, melainkan soal yang sekarang kerap disebut sebagai EQ (Emotional Quotient) dan juga AQ (Adversity Quotient). Bayangkanlah kalau Anda bekerja di bawah pimpinan yang sangat rajin, taat beribadah, tapi bodoh dan ngeyelan! Tentu saja, Anda juga bisa membayangkan diri bekerja dengan anak buah yang seperti itu!

Bacaan pertama hari ini memberikan contoh perkawinan macam itu dalam diri Ahab: punya kuasa, berkualitas ababil. Dia tersinggung karena Nabot tak mau memberikan tanah warisan. Ujung konspirasinya jelas: Nabot mati! Tentu banyak contoh kontemporer hasil perkawinan macam itu: anak yang bunuh diri karena nilainya buruk, cangkul yang merepresentasikan kekesalan orang yang nafsu kuasanya tak terlayani, warung tak cukup menutup diri dengan tirai, mass shooting di Orlando (dan belum kapok juga negara memelihara senjata untuk sipil seolah-olah senjata itu netral), dan masih banyak lagi. Itu semua bukan hanya memprihatinkan, menyedihkan, melainkan juga menjijikkan.

Yesus hendak menceraikan perkawinan macam itu, tentu karena perkawinan itu tak sesuai dengan rida Allah, karena Allah tak mungkin menghendaki kehancuran umat-Nya. Bagaimana menceraikannya?

Teksnya malah mengesankan orang mesti menuruti saja apa yang diinginkan pihak yang jahat: jangan melawan orang yang berbuat jahat, diminta jalan satu mil malah jalan dua mil, jangan berpedoman gigi ganti gigi, mata ganti mata, dan seterusnya. Ini siapa yang bego’ ya kalau gitu? Mosok Nabot njuk mesti memberikan juga tanah warisan jatah saudaranya (apa Nabot punya saudara)? Mosok diancam perkosaan malah njuk nawari nikah siri? Mosok dipaksa tutup warung malah menyerahkan seluruh peralatan masak ke satfol ff? Itu cuma cara baca teks yang letterleijk.

Yesus mengundang orang supaya bergerak ke level yang lebih tinggi. Orang tak perlu menghadapi kejahatan dengan level yang sama dengan kejahatan itu sendiri. Kalau begitu, ia tak beda dari pihak yang jahat; cuma soal menang-kalah aja, siapa yang punya kuasa dia menang. 

Puasa kiranya bukan soal menaklukkan orang lain, melainkan justru menaklukkan diri sendiri: dapatkah aku, dengan bantuan Allah, mengembangkan EQ dan AQ dalam aneka medan atau situasi demi kemuliaan Allah. Jika tidak, kejahatan malah mencapai tujuannya plus dampak yang mungkin semula tak direncanakannya: orang stress dan jatuh sakit karena dompet seisinya kena razia maling, orang cuma mengeluh dan mengeluh, menahan lapar haus tetapi tetap korupsi dan melecehkan orang lain, orang mencari cara untuk balas dendam, dan sebagainya.

Ini konon kata-kata Martin Luther King: Kami akan melawan kapasitas kalian untuk menyengsarakan orang lain dengan kapasitas kami untuk menanggung sengsara. Kekuatan fisik kalian akan kami hadapi dengan kekuatan moral kami. Perbuatlah apa yang kalian maui, kami akan tetap mencintai kalian!  Tak perlu berpanjang lebar dengan ungkapan Martin Luther King, cukup pahami pesannya: kita akan terus mencinta…

Tuhan, mohon rahmat kekuatan untuk tetap mencinta. Amin!


SENIN BIASA XI
(Peringatan Wajib St. Antonius Padua)
13 Juni 2016

1Raj 21,1b-16
Mat 5,38-42

Posting Senin Biasa XI B/1 Tahun 2015: Otak di Balik Hukum
Posting Senin Biasa XI Tahun 2014: Agama Modus, Masyarakat Cerdas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s