Perluas Batas Sesama

Seandainya agama memang berasal dari Allah, ia tentu bekerja seperti Allah bekerja, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Tapi apa mau dikata, karena agama itu tak imun dari orang-orangnya, akhirnya cara kerjanya juga bergantung pada orang yang beragama itu tadi, entah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan sebagainya. Celakanya, orang-orang yang berémblém agama itu justru cara kerjanya tak sinkron dengan cara kerja Allah.

Haiya jelas gak sinkronlah, Mo. Pertama, dari mana kita yakin bahwa cara kerja Allah itu begini atau begitu? Kedua, kebanyakan yang diklaim sebagai cara kerja Allah itu jelas bertentangan dengan kecenderungan manusiawi. Ya namanya hidup orang, pastilah mengikuti kecenderungan manusia itu, bukan? Hmmm…. bisa jadi sih, tapi itu kan tidak mutlak. Kalau orang cuma mengikuti kecenderungan manusiawi, bagaimana mungkin ada dua orang yang menikah tanpa selingkuh? Bagaimana mungkin ada teman yang mau menanggung derita demi kebaikan temannya? Artinya, ada hal lain yang tidak masuk dalam kategori ‘manusiawi’ belaka.

Mari pertimbangkan metodologi yang ditawarkan Buddha dengan delapan jalan kebenarannya: supaya selamat, orang mesti mengerti secara benar, mikirnya juga mesti benar, omongnya juga, perilakunya juga, dan seterusnya. Mungkin orang tak mengerti karena mikirnya gak bener (lha ya jelas to). Tak mengherankan bahwa ada guru rohani yang cuma menyodorkan teknik sederhana supaya orang hidup bahagia: drop your false beliefs!

Anjuran yang disodorkan Yesus hari ini kiranya dianggap susah setengah mati karena orang sudah sibuk dengan pengalaman dan gagasan-gagasannya sendiri. Betapa susahnya mencintai musuh. Betapa sulitnya mengampuni orang yang melukai hati. Betapa beratnya menerima orang yang melakukan kekerasan yang merugikan banyak orang, dan seterusnya.

Akan tetapi, kalau ditilik lebih teliti wacana Yesus hari ini, kita tak perlu berhenti pada kemungkinan tindakan yang sulit setengah mati itu. Kesulitan itu muncul karena orang punya kategori pemikiran yang sesat. Ajakan untuk mencintai musuh, mendoakan lawan, sebetulnya merupakan ajakan radikal untuk membangun paradigma yang bebas dari sekat-sekat: kawan-lawan, musuh-sekutu, dan sejenisnya. Dengan kata lain, alih-alih menghakimi orang lain sebagai pihak yang lemah, yang salah, yang jahat, mengapa tidak kita memahami juga sesama sebagai makhluk serapuh kita sendiri yang toh dicintai Tuhan?

Pun kalau orang jijik dengan Satfol FF yang arogan, mungkin rajin, taat sekaligus dungu, bukankah mereka juga pribadi yang sedang bergumul dengan kerapuhan mereka? Alih-alih menghujat oknum-oknum seperti ini, kiranya lebih sempurna lagi jika orang menemukan cara yang bisa lebih mencerahkan lebih banyak orang. Itu takkan terakomodasi kalau orang masih mempertahankan cara pandang biner ‘kawan-lawan’, ‘teman-musuh’, ‘beriman-kafir’, ‘puasa-maksiat’, dan sebagainya. Wong semua orang itu ya pada dasarnya tertatih-tatih menggapai kesempurnaan ilahi je.

Tuhan, bantulah kami supaya mampu menghancurkan kategori berpikir yang semakin eksklusif. Amin.


SELASA BIASA XI
14 Juni 2016

1Raj 21,17-29
Mat 5,43-48

Posting Selasa Biasa XI B/1 Tahun 2015: You’ll Never be Perfect!
Posting
Selasa Biasa XI Tahun 2014: Doakanlah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s