Doakanlah…

Ada pepatah dalam bahasa Italia dimmi con chi vai e ti dirò chi sei.  Menurut Google Translate: Katakan siapa teman-teman Anda dan saya akan memberitahu Anda siapa Anda. Dalam konteks Indonesia sekarang ini political google translate kurang lebih akan menerjemahkan: Katakan Anda berkoalisi dengan partai apa saja dan akan saya beritahu siapa Anda!

Memang jika politik tak dibarengi etika, apa saja bisa dipelintir. Yang benar disalahkan, yang salah dibenarkan. Yang Pandawa dianggap Kurawa dan yang Kurawa menganggap diri Pandawa. Itu sudah klop dengan ‘logika kejahatan’, sehingga, meskipun secara objektif, dari tinjauan sejarah yang kritis jelas-jelas gerbong partai itu dipenuhi koruptor kelas kakap plus pelaku kekerasan, yang bersangkutan sendiri bisa memutarbalikkan fakta. Tentu saja bisa begitu justru karena karakter jahat yang dimilikinya. Ini sudah disinyalir dalam pedoman pembedaan Roh: ada kepentingan politis dan politik kepentingan yang orientasinya buruk sehingga bahkan orang ‘baik’ pun bisa tertipu! Roh baik tidak bisa menyamar jahat, tetapi roh jahat bisa menyamar baik. Tak heranlah orang ‘baik’ pun tertipu rayuan gombal roh jahat.

Raja Ahab begitu lemah di hadapan Izebel, isterinya. Ia terjerumuskan oleh Izebel yang dengan cerdik memakai legitimasi agama untuk mencapai tujuannya. Kemarin dikisahkan plot Izebel membunuh Nabot, dan Raja Ahab menuai hasil plot jahat itu. Hari ini Tuhan menegur keras Raja Ahab dan mengutuknya, tetapi karena ia menunjukkan ungkapan tobatnya, Tuhan mengundur masa berlaku kutukan-Nya. Tuhan tertipu oleh kemunafikan Ahab? Tidak, Ia menunjukkan kemurahan hati-Nya.

Bacaan Injil hari ini menunjukkan uraian terakhir mengenai hukum kedua, yaitu hukum untuk mencintai sesama. Di sini Yesus mengkritik pemaknaan sempit terhadap kata sesama. Menurutnya, sesama bukanlah hanya mereka yang klop dengan kita, yang satu suku, satu agama, satu bangsa, atau satu ras: musuh pun adalah sesama. Artinya, orang yang jelas mencederai kita atau yang punya potensi mencederai kita pun adalah sesama. Konsekuensinya, sesama juga selalu punya potensi konflik yang seringkali mengecewakan, melukai atau mencederai jiwa kita.

Love-your-enemies-001

Lha, bottom line dari cinta adalah pengampunan (yang tolok ukur terendahnya ialah tidak membalas dendam) dan tentu saja Yesus menuntut lebih dari sekadar bottom line: bukan sekadar mengampuni, melainkan juga bahkan berdoa bagi mereka, dan ini pasti bukan doa jampi-jampi atau kutukan, melainkan sungguh doa bagi kebaikan musuh-musuh itu. Dengan kata lain, tolok ukur pengampunan yang lebih dalam ialah kesediaan orang untuk mendoakan musuhnya!

Dengan cara itulah orang Kristiani (1) make difference dan (2) menggambarkan kesempurnaan Allah: bukan bahwa Allah lemah dan rapuh, melainkan bahwa Allah senantiasa mengokohkan yang lemah dan rapuh itu (bdk. Yes 42:3, buluh yang terkulai tak akan dipatahkannya).


SELASA BIASA XI
17 Juni 2014

1Raj 21,17-29
Mat 5,43-48

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s