Ekshibisionisme Agama

Ekshibionisme biasanya dimengerti dalam ranah psikoseksual, tetapi juga bisa dipakai sebagai perspektif untuk melihat hal-hal tak senonoh dalam agama. Loh, mosok ada ketidaksenonohan dalam agama? Haiya jelas adalah! Bukankah agama hendak menyodorkan yang senonoh dan seringkali gagal? Kalau yang senonoh tadi gak nongol, jadinya yang gak senonoh yang tetap nongol. Haisss… Romo ini bersilat lidah aja! Ga’ bae’, tau’?! Oh iya ya, baiklah saya hentikan silatnya, lidahnya jalan terus.

Dalam teks hari ini kita diingatkan pada kekuatan korosif ekshibisionisme. Kenapa korosif? Karena makin lama bisa menjerumuskan orang ke fetisisme, ‘penjimatan’ sesuatu. Dalam ranah seksualitas, orang ekshibisionis ini mendapat kenikmatan seksual bukan dari relasi personal-seksualnya dengan pribadi yang berbeda, melainkan dari ekshibisinya sendiri. Bisa jadi ia bermasturbasi di depan umum dan di situlah ia mendapatkan kenikmatan seksualnya. Tentu ada yang jijik melihatnya, tetapi ada juga yang seperti panci mendapat tutupnya, yaitu orang yang menghidupi voyeurisme: gak usah susah-susah ngintip, sudah dapat tontonan gratis di kolam renang, di pantai, di kamar mandi, dan di internet tentu saja (meskipun mungkin mbayar ya?).

Baik yang ekshibisionis maupun yang voyeuris ini, sama-sama membawa fetis yang ada di kepalanya dan mendapatkan kepuasannya dari situ, tanpa perlu ada relasi pribadi dengan makhluk seksual lainnya. Teks hari ini lebih menyoal ekshibisionisme dalam hidup beragama dan kiranya cocok untuk kita yang sedang berpuasa. Ekshibisionisme bisa secara diam-diam menyelewengkan orang dari tujuan puasa sendiri: alih-alih Ad Maiorem Dei Gloriam malah jadi Ad Maiorem Diri Gue. Orang lupa bahwa puasa adalah sarana, bukan tujuan.

Kapan orang menjadikan puasa sebagai tujuan? Ketika praktik puasa itu menginjak-injak nilai-nilai kemanusiaan universal yang tertanam dalam hati orang; ketika praktik puasa itu dipagari dengan formalisme sampai level warung, kursi, kompor, dan sebagainya semata supaya orang tak batal berpuasa! Memang puasa diatur agama, tetapi aturan agama itu mengikat hati nurani orang, bukan mengikat yang fisik, mulai dari aroma masakan sampai gambar yang bikin ngiler itu. Kalau agama terus mau menata secara koersif tataran fisik itu, ia akan menjelma sebagai negara diktator, semua didikte; yang menonjol bukan lagi relasi pribadi orang dengan Tuhannya, melainkan agama yang diperalat mental ekshibisionis orang!

Saya belajar dari rekan saya yang muslim bahwa Islam mengatur bagaimana jika umatnya batal menjalankan puasa pada bulan suci. Katanya, ia bisa menebusnya di waktu lain. Artinya, Islam memberi tempat pada kerapuhan orang sekaligus ruang untuk menata batinnya, yang tak dibatasi oleh bulan suci. Bukankah ini indikasi bahwa Islam tak hendak menjadikan puasa sebagai fetis? Tapi ya gitu deh, sebagian orang menyimpan jimat di kepalanya sehingga puasanya diiringi oleh seringai yang sangar, muka muram, dan aneka pikiran yang sebetulnya malah membatalkan maksud puasa.

Praktik agama yang tidak muncul dari relasi pribadi orang dengan kemurahan hati Allah dengan sendirinya cuma bermakna horisontal yang kental dengan performance, ekshibisionisme; dan ini cocok untuk mereka yang voyeuris terhadap hingar-bingar agama, dan siap sedia menggandengnya untuk kepentingan bisnis, misalnya.

Tuhan, semoga ruang batin kami sungguh tersedia untuk-Mu. Amin.


RABU BIASA XI
15 Juni 2016

2Raj 2,1.6-14
Mat 6,1-6.16-18

Posting Rabu Biasa XI B/1 Tahun 2015: Puasa Oh Puasa
Posting Rabu Biasa XI Tahun 2014: Vanity, Target Orang Muna’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s