Puasa Oh Puasa

Resonansi kebenaran menembus batas agama, bersifat perennial, melampaui problem semu mayoritas-minoritas. Apa yang dinyatakan Menteri Agama berkenaan dengan ibadah puasa (link sudah tak berlaku) beberapa waktu lalu menggetarkan dawai pengalaman saya, seorang Katolik, yang juga punya tradisi berpantang dan puasa. Memang, anak-anak pun tahu bahwa puasa dalam Islam dan Katolik itu berbeda dan puasa menurut aturan Gereja Katolik itu entengnya setengah mati: hanya mengurangi sekali ‘jatah makan’ (dari tiga kali sehari) dan menggeser sedikit jam ‘buka puasa’. Bunyi aturannya ialah: makan dan minum kenyang satu kali dalam 24 jam.

Konkretnya, sebagai contoh, jika orang hendak berpuasa pada hari Rabu, ia bisa menghitung jam terakhir makannya di hari Selasa. Taruhlah ia selesai makan-minum jam sepuluh malam. Dari jam sepuluh malam itulah ditarik rentang 24 jam. Berarti, waktu ‘buka puasa’ baginya ialah hari Rabu jam 10 malam. Maka, dalam rentang waktu itu, ia hanya boleh makan-minum kenyang satu kali saja (dan tak pernah dikatakan soal makan camilan yang tidak mengenyangkan, karena jelas itu kontradiktif dengan hakikat berpuasa dan pantang sendiri). Ia boleh makan jam 5 pagi atau 12 siang atau 6 sore, pokoknya baru ‘buka puasa’ jam 10 malam itu. Ringan, bukan? [Sebetulnya enggak juga sih. Coba saja dari kebiasaan makan 3 kali sehari lalu menahan lapar dan haus dari jam 6 pagi sampai 10 malam atau bahkan 12 malam! Itu tidak ringan. Ringannya bahwa itu hanya ‘diwajibkan’ 2 kali saja dalam kurun waktu 40 hari]

Sewaktu saya masih bego’ (sekarang pun masih, tapi dalam hal lain), saya pernah mengalami pahala puasa yang menambah iman saya kepada Tuhan. Kenapa bego’? Karena praktis saya berpuasa selama sekitar 36 jam. Artinya, aturan puasa Gereja Katolik itu saya ganti sendiri: makan minum kenyang satu kali dalam 36 jam! Kok bisa? Ya bisa, namanya juga bego’!
Saya selesai makan malam pada hari Selasa, menjelang Rabu Abu, sekitar jam 19.25. Nah, karena waktu itu begitu terpaku pada bunyi aturan makan-minum kenyang satu kali dalam sehari, pada hari Rabu Abu itu saya cuma makan satu kali, yaitu pada jam 12 siang. Saya tidak makan malam juga. Padahal, saya baru sarapan di hari Kamis jam 07.00! Berarti, saya mengganti hitungan 24 jam menjadi 36 jam, bukan? Dasar bego’!

Tapi tak apa, orang bego’ pun disayang Tuhan. Pada hari Rabu Abu itu saya justru melakukan kerja kasar seharian dan itulah tadi yang saya katakan bahwa puasa itu malah menambah iman saya kepada Tuhan. Betapa tidak! Waktu itu, biasanya jika tidak sarapan, kira-kira jam 9 itu tangan saya gemetaran dan tentu saja rasa lapar menyerang perut. Akan tetapi, saya tidak tahu apa yang terjadi pada metabolisme tubuh saya, saya bisa bekerja keras sampai jam 12 siang dan melanjutkan pekerjaan itu sampai maghrib tanpa gemetaran karena lapar. Sajian makanan lezat di meja yang terlihat saat membersihkan kusen pun tak membuat saya tergoda sama sekali. Memang pekerjaan saya tak seberat kuli angkut di pelabuhan. Saya hanya menurunkan puluhan daun jendela kayu jati berukuran sekitar 200x50cm, membersihkan kisi-kisinya, lalu memasangkannya kembali ke jendela berketinggian 150cm dari tanah. Saya tak pernah menimbang berat jendela itu, tapi lumayan berat.

Pengalaman itu mengatakan kepada saya bahwa dalam pertolongan Tuhanlah saya bisa bekerja keras bahkan pada saat berpuasa. Tanpa bantuan-Nya, kiranya keroncongan perut saya di pagi hari memicu tremor dan kehilangan tenaga untuk kerja fisik. Sejak itu, saya tak pernah takut bekerja pada saat berpuasa. Justru pada saat berpuasalah orang beriman bisa mempersaksikan Allah yang mahabaik, yang senantiasa menjagai umat-Nya: jika ia menjalankan puasanya dengan gembira hati, dengan intensi murni untuk memperbaiki relasi pribadinya dengan Tuhan.

Entah bagaimana, bacaan liturgi Gereja Katolik hari ini kok ya pas bicara soal puasa: bergayalah sedemikian rupa sehingga orang lain tak tahu bahwa kamu sedang berpuasa. Dengan cara itulah, puasa tidak kamu gunakan untuk memuliakan dirimu sendiri sehingga terus nyinyir dengan apa yang dibuat orang lain (apakah mereka menghormatimu atau tidak). Just do what you do! Kamu hormat pada polisi bukan karena ia berpuasa atau tidak berpuasa, apalagi hormat kepada Allah!

Orang berpuasa dengan motif yang benar akan mengundang orang lain untuk menghormati Allah, menghormati kehidupan. Semoga puasa kita mengarah ke sana.


RABU MASA BIASA XI B/1
17 Juni 2015

2Kor 9,6-11
Mat 6,1-6.16-18

Posting Tahun Lalu: Vanity, Target Orang Muna’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s