Nabi… Bir Lu

Kita bisa bikin program audisi untuk pengkotbah cilik, misalnya, tetapi kita takkan bisa memproduksi nabi (kecuali nabi adalah sejenis makanan). Nabi adalah sosok pribadi yang berbicara atas nama Tuhan: Tuhan meletakkan Sabda-Nya dalam hati orang dan kemudian pada mulutnya. Seorang nabi tak pernah bisa ‘tenang-tenang’ berdiam diri persis karena Sabda Allah pertama-tama masuk dalam hatinya, baru kemudian pada mulutnya. Dari hati ke mulut itu loh yang bikin gaduh karena melibatkan unsur-unsur yang kemarin dulu saya sebut: IQ, EQ, AQ (mau ditambahi SQ atau QQ juga boleh).

Tidak semua nabi jadi pengkotbah, dan tak semua pengkotbah adalah nabi, sekurang-kurangnya pada awalnya. Audisi pengkotbah bisa memberi ruang besar bagi orang untuk omong apa saja yang baik seturut ketrampilannya mengolah kata, entah secara lisan ataupun secara tertulis (seperti toh membuat posting blog begini). Omongannya pokoknya baik-baik, ideal berbau moral (sesuatu yang sebisa mungkin dihindari oleh blog ini). Asalnya dari aneka ajaran moral yang dihafalkan dan dijodoh-jodohkan dengan contoh-contoh yang menarik perhatian karena lucunya. Dalam audisi pengkotbah, omongan yang baik-baik dan menarik ini kiranya mendapat skor tinggi dan persis itulah bedanya dengan kenabian.

Nabi tercabik-cabik hatinya karena Allah menyentuhnya dari kedalaman diri. Teks bacaan pertama menggambarkan Elia sebagai sosok bagaikan api, dan perkataannya laksana obor membakar. Bandingkan juga dengan ungkapan Yeremia: dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup. Begitulah nabi. Ia bergerak dari dalam ke luar. Ia bertitik tolak dari kobaran Allah sendiri, bukan dari rumusan, bukan dari dogma, bukan dari ajaran moral, bukan dari pikiran-pikiran manusiawi. Apakah nabi gak mikir? Justru nabi mikir bagaimana caranya ‘api’ dalam dirinya itu bisa tersalurkan seturut IQ, EQ, AQ, SQ padanya.

Poinnya bukan IQ dan kawan-kawannya itu, melainkan bara api dalam hati orang yang dinyalakan oleh Allah. Poinnya bukan rumusan, melainkan substansi yang hendak dikuak oleh rumusan itu sendiri. Maka, ajaran Yesus tentang doa yang diformalisasikan sebagai doa Bapa Kami itu poinnya bukan rumusannya sendiri. Yesus tidak mengajarkan rumusan mantra. Ia mengundang orang untuk sampai pada substansi yang dirumuskannya. Kalau begitu, sebetulnya adalah menjijikkan bahwa orang ribut dengan rumusan tetapi malah acuh tak acuh terhadap roh dari rumusannya.

Jika orang menangkap roh rumusan doa yang diajarkan Yesus, ia mengerti bahwa ia mesti tumbuh dalam kesadaran kolektif ‘kami’ di hadapan Allah yang adalah Bapa bagi semua orang tanpa pengecualian. Akan tetapi, kita tahu kekuatan jahat memabukkan orang dengan kesadaran hidup ‘aku’: demi kepentinganku, kelompokku, agamaku, partaiku, agendaku, dan sebagainya. Jadi, intinya kita jangan egois ya, Romo? Haaaahahaha…. terserah! Saya tidak sedang memberi ajaran moral. Kita semua punya panggilan kenabian, dan panggilan kenabian ini tak terpenuhi oleh paradigma sempit! Kalau paradigmanya menyempit, yang keluar dari bibir juga yang sempit-sempit. Ini bisa dilakukan pengkotbah handal, tetapi itu tak cukup membuatnya jadi nabi, kecuali nabi palsu. Mungkin bisa dikatakan kepadanya “Nabi…bir lu!”

Semoga Tuhan membantu kita untuk senantiasa memperluas sudut pandang dan paradigma hidup. Amin.


KAMIS BIASA XI
16 Juni 2016

Sir 48,1-14
Mat 6,7-15

Posting Kamis Biasa XI B/1 Tahun 2015: Ayo Petisi Tuhan
Posting Kamis Biasa XI Tahun 2014: Jakarta-Indonesia PP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s