Kedip-kedip atau Melotot?

Entah di mana Gandhi pernah berkata (Gandhi yang mana juga saya tak tahu): kemakmuran itu diperlukan sampai pada titik ia jadi halangan. Di balik penciptaan kebutuhan yang tak terbatas (pinter-pinternya litbang produsen atau bodoh-bodohnya orang yang konsumtif) terdapat perangkap. Mungkin perangkap itu bernama materialisme, yang membuat kepuasan sensorik alias inderawi orang tak kunjung usai alias tak bisa move on ke jenis kepuasan lain yang lebih langgeng sifatnya.

Teks bacaan pertama hari ini kiranya relevan sepanjang zaman, sejauh orang terus terperangkap oleh materialisme yang merembet pada kekuasaan. Atalya, si ibu Ahazia, membunuh semua keturunan Ahazia dan dia bisa hepi-hepi memerintah negeri, mengakumulasi materi, menjaga gengsi. Itu cuma berlangsung enam tahun karena rupanya ada anak Ahazia yang luput dari pembunuhan atas jasa saudara perempuan Atalya sendiri dan dibesarkan secara tersembunyi di Bait Allah. Poin narasi ini dalam keseluruhan Kitab Suci Kristiani tentu tak bisa dilihat sebagai hukum balas dendam atau karma karena itu tak sinkron dengan pesan besar Kitab Suci: warta gembira.

Warta gembiranya ialah bahwa Yoas luput dari pembunuhan yang dimandatkan Atalya. Yoas masih kecil dan imut-imut barangkali, tetapi jelas ia adalah representasi kaum lemah di hadapan gelojoh neneknya sendiri. Ini poinnya: Allah memperhitungkan kaum lemah di antara hiruk pikuk mereka yang mendewakan kuasa material. Yoas memimpin negeri puluhan tahun dan reputasinya mengungguli reputasi ayahnya sendiri, meskipun akhirnya ia mati dibunuh juga. Memang zaman dulu sepertinya gampang ya bunuh-bunuhan, seperti zaman sekarang juga gampang sih bunuh-bunuhan, meskipun levelnya berbeda.

Intervensi Allah rupanya tidak masuk melalui kekuatan yang secara material begitu awesome, tetapi lewat pribadi atau peristiwa yang sederhana. Tak mengherankan bahwa Yesus mengingatkan orang akan fungsi mata sebagai pelita tubuh: ini pasti bukan mata belok atau sipit, mata ijo atau biru, melainkan mata batin. Mata sipitnya bolehlah melirik cowok macho, cewek kécé, cewok melambai, atau cowek alay, tapi mata batin sebaiknya diberi lensa yang lebih progresif. Macam mana itu lensa progresifnya?

Hélder Pessoa Câmara, seorang uskup di Brazil pada abad lalu konon pernah menulis kira-kira begini: Saya punya kepercayaan kepada orang-orang muda, kepada kaum lemah yang bersama-sama bergerak dalam non-violent movements, tanpa mengejar gengsi, kepada kelompok-kelompok kecil yang tak punya kuasa tetapi bersedia berembug tanpa kebencian, tanpa kekerasan, tetapi juga tanpa takut, supaya terbangun kondisi manusiawi yang adil dalam relasi negara kaya dan miskin, perusahaan besar dan negara kita… dan Tuhan mencintai orang rendah hati, lemah, kecil; dan Ia takkan meninggalkan dunia ini. Dialah kekuatan dari kelemahan kita!

Njuk apa hubungannya dengan mata yang melihat cocewokwek macho bahenol tadi, Mo? Halah… if you insist, sudahlah, selesaikan itu pada kedipan pertama, dan sebelum kedipan kedua mulai pikir sesuatu yang lebih besar daripada soal bahenol seksi melambai!

Tuhan, hadirlah dalam mata batin kami supaya kami tak melulu melihat segalanya dengan tolok ukur materialisme belaka. Amin.


JUMAT BIASA XI
17 Juni 2016

Raj 11,1-4.9-18.20
Mat 6,19-23

Posting Jumat Biasa XI B/1 Tahun 2015: Minions Hilang Arah
Posting Jumat Biasa XI Tahun 2014: Memelihara Berhala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s