Tak Ada Tuan Selain Mamon

Seorang mahmud bisa saja mempertanyakan apakah ia mendapat pahala dari segala pengorbanannya (tenaga, waktu, materi, karir) untuk keluarga. Mungkin baik juga pertanyaan itu didekati dengan dua bacaan hari ini. Yang pertama melanjutkan kisah kemarin: Yoas memimpin negerinya secara buruk, terutama karena ia seperti terlepas dari kontrol agama sepeninggal imam Yoyada. Rupanya agama menjadi elemen penting sehingga jika tak dijalankan, terhadap pasukan Aram yang jumlahnya tak seberapa pun tentara Yoas takluk. Lagi-lagi, Allah digambarkan memakai kelompok lemah untuk menunjukkan kuasa-Nya. Tentu dari sini tak bisa disimpulkan perlunya pengejawantahan aturan agama ke dalam perda, pergub, perpres, dan sebagainya. Ini soal keterarahan hati orang kepada Allah.

Di situ ada masalah dengan Yoas. Selama imam Yoyada hidup, Yoas mendengarkan nasihat Yoyada yang tentu bernuansa religius, tetapi itu tak cukup terinternalisir dalam hatinya sehingga begitu Yoyada mati, ia langsung berkiblat pada berhala. Anak Yoyada yang mengingatkan Yoas pun dibunuh dan begitulah, tak mungkin orang mengabdi kepada dua tuan! Salah satu mesti dihancurkan!

Pesan Yesus dalam teks hari ini juga jelas: Allah tak bisa dipadankan dengan Mamon. Mamon ini istilah bahasa Aram untuk menyebut kepemilikan dan kekayaan, yang bisa diwakili dengan kata uang, tetapi jelas maksudnya bukan bahwa uang itu pada dirinya jahat. Kekayaan, kemakmuran, uang itu gak jahat, tetapi sering ditunggangi oleh yang jahat (bdk. misalnya 1Tim 6,6-10. 17-19: Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya).

Poinnya ialah bahwa Allah mesti jadi yang pertama. Apa artinya Allah mesti jadi yang pertama padahal jelas-jelas kita mesti berjibaku mencari uang untuk bertahan hidup? Artinya, setiap jibaku perlu diletakkan dalam kairos, waktu kualitatif, waktu yang penuh rahmat. Semakin orang menghayati waktunya sebagai kairos, seluruh pengorbanannya sudah otomatis jadi pahala: ia happy tanpa syarat, ia mendapat upah oleh ‘kerja tanpa upah’-nya. Nah, kalau ia tidak happy dengan pengorbanannya, pahala tiada. Celakanya, kalau orang berorientasi pada pahala fisik mamon, lama kelamaan ia tergiring untuk meniadakan Allah. Kalau orang bilang gada Tuhan, bisa jadi mereka cewok matre‘.

Tuhan, semoga kami hidup dalam kesadaran akan rahmat hadirat-Mu dari momen ke momen, dalam setiap asupan udara yang memberi kehidupan. Amin.


SABTU BIASA XI
18 Juni 2014

2Taw 24,17-25
Mat 6,24-34

Posting Sabtu Biasa XI B/1 Tahun 2015: Sampah ‘Pecinta’ Alam
Posting Sabtu Biasa XI Tahun 2014: Mau Golput Lagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s