Kalau Mau…

Kerap kali sewaktu hepi-hepi, orang tak jatuh dalam ‘dosa’ pembanding-bandingan. Baru kalau hidupnya susah, dia akan mulai membanding-bandingkan: kok orang lain lebih enak ya nasibnya, kok hidupku susah begini gak kayak tetangga sebelah yang bisa punya ini itu, kok hidupku nelangsa begini ya, kok temanku enak saja ya bisa korupsi dan gak ketahuan, dan lain sebagainya.

Kalau orang yang mengeluh seperti itu Kristen, barangkali ia lupa wanti-wanti hari ini: Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. Kalau ia tidak lupa akan wanti-wanti Yesus itu, berarti ia tidak paham alias ora dhong alias bego’ dan sudah jatuh tertimpa tangga pula! Maksudnya, sudah hidupnya susah, masih gak ngerti juga hidupnya susah, jadi gak terima, jadi tambah tersiksa!

Wanti-wanti itu ada dalam konteks Yesus yang hendak memberi tuntunan kepada murid-muridnya. Ia berdoa sendirian (artinya murid-muridnya tak ikut berdoa, mungkin memang mereka tak biasa berdoa, mungkin juga gak tau apa artinya doa), tetapi setelah berdoa itu tau-tau bertanya kepada para murid: menurut orang banyak, siapakah aku ini? Dan para murid menjawab kesan yang mereka dengar dari orang banyak: Yohanes Pembaptis, Elia, dan nabi-nabi lain yang telah bangkit kembali.

Menarik, bahwa muncul asosiasi dengan Elia yang hari-hari kemarin kita dengar kisahnya dan memang Yesus bisa dimirip-miripkan dengannya: sama2 mengebaskan ide politeis, begitu getol menyatakan Allah yang Esa, sama-sama cinta orang miskin, janda, pribadi pendoa, dan lain sebagainya. Akan tetapi, tentu saja gak bisa dimirip-miripkan semua. Salah satunya, Yesus tidak intoleran seperti Elia yang membabat habis nabi-nabi Baal. Ia tak pernah memaksakan bahkan ide baiknya kepada orang lain.

Pun dalam wanti-wantinya hari ini dia kan mengatakan: barangsiapa mau mengikuti aku… Artinya: kalau mau mengikuti aku! Entah mau mengikuti aku lewat cara apapun, prinsipnya ya ini: kamu mesti mengambil salibmu dan memikulnya. Maka, entah jadi guru, jadi kuli, jadi pertapa, pilih agama Katolik, Islam, Hindu, Budha, dll… terserah, sumonggoooo! Pokoknya, kalau orang mengikuti panggilan yang disodorkan Yesus ini, ia memang mesti mengambil salibnya sendiri dan memikulnya (juga sendiri). Gak usah repot membandingkan salibnya dengan salib orang lain. Gak usah pusing mikir kenapa di agama lain enak, kenapa di negara lain bebas, kenapa di provinsi lain begini beginu…

Loh, mosok gak boleh bahas perda, Romo? Ya, sumonggo, tapi bukan karena membanding-bandingkan salib. Orang beragama itu semestinya orang yang bebas, bukan orang yang hidup dalam keterpaksaan. Tak ada orang beriman semata karena keturunan, kultur, dan sejenisnya. Akhirnya orang mesti memilih agama yang hendak dianutnya dan dihidupi dalam kebebasan.

Ya Allah, bantulah kami untuk menerima diri dan mengembangkannya seturut panggilan-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA XII C/2
19 Juni 2016

Za 12,10-11;13,1
Gal 3,26-29
Luk 9,18-24

Posting Minggu Biasa XII B/1 Tahun 2015: Capek Beriman?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s