Sabar Ya, Bu’

Gak ada dosa orang lain yang tak jadi tanggung jawab Anda. Loh, piye to Romo, ki? Kemarin bilangnya tiap orang mengambil tanggung jawab atas hidupnya sendiri, kok sekarang bilang dosa orang lain juga tanggung jawab kita alias kita juga bertanggung jawab atas dosa orang lain? Aneh, ésuk dêlé soré témpé! (Lha ya sebetulnya malah gak aneh. Yang aneh itu kan kalau paginya tempe trus sorenya jadi kedelai; normalnya jadi sambel tempe atau tempe penyetan)

Tiap orang memang mesti mengambil tanggung jawab atas hidupnya sendiri karena masing-masing orang dimodali kebebasan untuk memilih. Akan tetapi, kebebasan untuk memilih ini senantiasa bersinggungan dengan kebebasan pihak lain toh. Kebebasan A bisa jadi membatasi kebebasan B; lha kalau manusia itu bukan cuma A dan B, lantas model persinggungan kebebasannya jadi lebih runyam dan itulah yang membangun relasi sosial manusia. Maka, kalau ada orang yang ‘berdosa’, tentu saja dia mesti bertanggung jawab secara pribadi, tetapi orang lain punya tanggung jawab sosial.

Pada awal ibadat Katolik biasanya disodorkan rumusan tobat yang berbunyi kurang lebih bahwa umat beriman mengakui keberdosaannya dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian (mungkin kealayan termaktub di dalamnya, halah). Lha, kelalaian (dan kealayan, halaaaaah!) itulah yang ranahnya adalah tanggung jawab sosial. Orang diingatkan pada narasi jadul tentang Kain yang membunuh adiknya, Habel, dan ketika ditanyai oleh Tuhan Allahnya di mana adiknya itu, Kain menjawab,”Ya mboh! Emangnya aku penjaganya po piye?!” Ya ampun, Kaiiiin, rupamu itu loh!

Kerapuhan, kelemahan, keberdosaan orang lain bisa jadi titik awal tanggung jawab kita dan dosa bisa jadi sebuah panggilan untuk lebih mencinta. Pada kenyataannya, mungkin justru bagi umat beragama, keburukan penganut agama lain justru membuatnya bernafas lega seolah-olah menyimpan dendam kesumat dalam batin untuk mengatakan bahwa agama lain itu salah, maka untuk memperbaikinya mereka harus memeluk agamaku, masuk ke komunitasku, masuk ke gerejaku, dan seterusnya. Orang ini lupa bahwa relasi pribadi dengan Allah tak pernah bisa direduksi pada agama tertentu. Orang ini mungkin lupa bahwa sistem kepercayaan dibangun atas dasar asumsi yang tak bisa dibuktikannya sendiri tanpa cinta kasih Allah.

Marilah mendoakan beberapa pribadi yang belakangan ini mendapat cacat cela, kritik pedas, ancaman atas nama agama, yang sebenarnya justru sedang berupaya memuliakan agama dan Tuhan dengan keterbukaannya terhadap seluruh umat manusia.

Semoga mereka ini senantiasa diberi kesehatan, kekuatan, ketabahan, kesabaran untuk menampakkan cinta murah hati Allah kepada seluruh umat manusia. Amin.


SENIN BIASA XII C/2
20 Juni 2016

2Raj 17,5-8.13-15a.18
Mat 7,1-5

Senin Biasa XII B/1 2015: Ayo Main Hakim Sendiri
Senin Biasa XII A/2 2014: Mengkritik Bukan Menghakimi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s