Puasa Maksimal

Anda sudah dengar istilah Golden Rule, entah bagaimanapun rumusannya. Konfusius, misalnya, merumuskan kebaikan maksimum dengan nasihat ‘jangan lakukan kepada orang lain yang kamu tak inginkan orang lain lakukan padamu’ (Analect 15.23). Zoroaster mengatakan kurang lebih ‘jangan lakukan kepada orang lain yang harmful bagimu sendiri’. Jainisme memformulasikan ‘A man should wander about treating all creatures as he himself would be treated‘. Silakan lihat misalnya di tautan ini kalau berminat melihat rumusan-rumusan lainnya. Pokoknya, Golden Rule itu memang built-in dalam kebajikan agama. Maka, kalau mau melakukan otokritik, paling gampang ya tinggal kaji saja apakah perda atau undang-undang atau aturan lain dalam masyarakat plural itu memenuhi kaidah Golden Rule. Kalau tidak, sudah dengan sendirinya aturan itu ‘cacat produksi’.

Aloysius Gonzaga yang diperingati Gereja Katolik hari ini meninggalkan kekayaan dan status terhormatnya untuk merawat orang-orang kusta di sekelilingnya dan itu jadi contoh konkret aplikasi Golden Rule tadi. Ia menemukan jalan sempit yang menuntun pada kehidupan, merealisasikan cinta kepada sesama. Ada rumusan lain yang bisa dibunyikan sebagai doa, yang mungkin berguna atau bisa juga Anda coba sendiri:

Tuhan, saat aku lapar (entah karena sengaja berpuasa atau memang sedang kelaparan saja), kirimkanlah kepadaku seorang yang membutuhkan makan.
Saat aku haus, datangkanlah padaku seorang yang memerlukan minum.
Ketika aku kedinginan, tunjukkanlah padaku seorang yang memerlukan penutup untuk menghangatkan dirinya.
Ketika aku penuh kesedihan, berikanlah padaku seorang yang membutuhkan penghiburan.
Ketika salib hidupku terasa semakin berat, biarkan aku ikut menanggung salib sesama.
Saat aku tak punya waktu, berilah orang yang perlu kubantu untuk beberapa saat.
Saat aku dihina, semoga kudapati sesama yang dapat kupuji.
Saat aku hilang semangat, berikanlah orang lain yang perlu kusemangati.
Saat aku butuh dipahami, berikanlah sesama yang perlu kupahami.
Saat aku memerlukan perhatian, kirimkanlah kepadaku orang yang perlu kuperhatikan.
Saat aku cuma pikir diriku sendiri, tariklah perhatianku pada sesama.
Buatlah kami pantas, ya Allah, untuk melayani sesama kami yang hidup dalam kelaparan dan kemiskinan.
Berikanlah kepada mereka, melalui tangan kami, rezeki mereka setiap hari, melalui cinta kami yang penuh pengertian, damai, dan menggembirakan.

Rumusan doa seperti itu konon disampaikan oleh Bunda Teresa yang dalam waktu dekat akan diberi gelar sebagai Santa seturut tradisi Gereja Katolik. Tentu untuk mendoakannya, orang tak perlu menunggu waktu sampai diberi gelar Santa atau Santo. Akan tetapi, doa macam itu hanya mungkin dibuat jika orang mengandalkan semata kekuatan Allah sendiri seperti dikisahkan dalam bacaan pertama, Raja Hizkia yang meminta pertolongan Tuhan lantaran ramalan akan adanya serangan besar dari bangsa Asyur.

Tuhan, bantulah kami supaya semakin dapat mengandalkan kekuatan-Mu lebih daripada hitung-hitungan manusiawi kami. Amin.


SELASA BIASA XII
(Peringatan Wajib St. Aloysius Gonzaga)
21 Juni 2016

2Raj 19,9b-11.14-21.31-35a.36
Mat 7,6.12-14

Posting Selasa Biasa XII B/1 Tahun 2015: Biarkan Babinya Tidur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s