Mau Jus Valak?

Dengan segala hormat kepada yang menjalankan puasa, maafkan saya karena hari ini tak bisa memilih ilustrasi selain dari minuman. Sewaktu saya melakukan outing ke Papua (buset, tinggalnya di mana, outingnya ke mana; tiketnya empat kali lipat harga tiket ke Bangkok pulang pergi), saya melintasi wilayah yang panas sepanas-panasnya. Kehausan melanda dan saya berusaha mencari warung untuk sekadar minum karena saya tak membawa bekal minum. Di sebuah warung dipamerkan banyak jeruk yang kelihatannya tak segar dan warna kulitnya juga seperti gelap bercampur tanah.

Saya tak berpikir panjang, pokoknya pesan minum jus jeruk atau es jeruk dah. Menyenangkan, gelasnya besar pula. Saya seruput sedikit sekadar membasahi kerongkongan dan rasanya mak nyesss… muaniiiiiis banget (sambil lihat penjualnya). Saya eman-eman (apa itu bahasa Indonesianya? Pokoknya diirit-irit gitu deh minumnya) untuk nanti habis makan saja. Loh, jadi ini sebetulnya kehausan atau kelaparan toh?!

Penyesalan selalu datang belakangan. Setelah membayar semua, ternyata harga segelas besar jeruk yang manis menyegarkan itu cuma tiga ribu rupiah. Itu jeruk murni hasil perasan enam jeruk yang kusam tadi, dan di Semarang harganya 25 ribu!!! Asem teles, tahu gitu tadi saya pesan tiga gelas, Bu’!

Dalam hidup kita itu (ciyeh… terpaksa menuliskan renungan deh) selalu ada pemerasan (bukan dalam arti memalak orang) yang mengeluarkan apa yang terbaik di dalam substansi sesuatu, misalnya jeruk tadi. Tampilannya kusam, kotor, tak menarik, tetapi dari dalamnya itu begitu diperas, nongollah sesuatu yang menyegarkan. Pemerasan itu bisa berupa peristiwa yang tak mengenakkan, kesusahan, luka fisik atau derita batin, keraguan yang tak kunjung usai, orang menyebalkan, situasi dan orang yang menekan kita, dan sebagainya. Pada kenyataannya, blender atau juicer itu mengindikasikan kita ini berisi apa; bukan cuma tampilan luarnya, melainkan juga dalemannya ini terbuat dari apa.

Tak mengherankan bahwa Yesus mengambil kenyataan macam ini untuk menyampaikan pesannya: Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Siapa mereka? Nabi-nabi palsu. Siapa nabi-nabi palsu itu? Ya Anda, ya saya, ketika kita diperas dengan aneka macam hal itu dan yang keluar dari dalam diri hanyalah caci maki, umpatan, bete, cari kambing hitam, tersinggung gengsi, mendendam, ngegosip, mentransformasi diri jadi Valak, dan sebagainya.

Raja Yosia mengoyakkan pakaiannya ketika Safan, asistennya, membacakan kitab yang ditemukan Imam Hilkia di bait Allah yang terbengkalai. Ia tidak sibuk mengutuk para pendahulunya, tetapi mengadakan perjanjian dengan Allah, mempererat komitmennya kepada Sabda Allah. Dari situlah diperoleh jus yang enak untuk kehidupan yang keras ini.

Ya Tuhan, semoga telinga batinku senantiasa siap sedia mendengarkan Sabda-Mu. Amin.


RABU BIASA XII
22 Juni 2016

2Raj 22,8-13;23,1-3
Mat 7,15-20

Posting Rabu Biasa XII Tahun 2014: Cara Bongkar Topeng Hipokrit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s