Rahmat Murahan

Kata ‘murahan’ berkonotasi jelek, pun kalau diterapkan dalam refleksi hidup umat beriman. Bukankah rahmat itu sendiri berarti gratis? Orang gak perlu membayar mahal untuk mendapatkan rahmat! Cukup ia komat-kamit mendaraskan rumus yang sudah diajarkan guru rohani, njuk nanti ia dapat pencerahan: kedamaian, ketenangan, kebahagiaan, rasa cinta, dan macam-macam lagi. Kok bisa itu disebut murahan? Ya bisa! Kenapa murahan? Untuk itu kan orang butuh latihan yoga atau meditasi yang gak gampang loh?!

Weh weh weh, Romo ini memancing perpecahan ya! Mau menentang orang yang bermeditasi atau yoga itu ya? Mau mengatakan mereka yang beryoga dan bermeditasi untuk mencari ketenangan hidup itu mendapat rahmat murahan ya?! Ampun beribu ampun, bukan itu maksud saya. Saya tidak anti yoga atau meditasi. De facto, saya melakukannya, bahkan dulu saya lakukan secara sangat intensif. Yang saya bahas sekarang ini sesuatu yang ranahnya berbeda. Ini bukan lagi soal pencarian ketenangan, kesehatan, kebahagiaan, kedamaian diri sendiri. Ini adalah soal menghargai rahmat yang berharga, bukan mencari rahmat murahan.

Apa itu rahmat berharga? Dietrich Bonhoeffer pernah menulis satu artikel berjudul ‘Die teure Gnade’ yang kalau diterjemahkan kurang lebih berarti ‘rahmat yang mahal’. Bagaimana memahaminya? Mari lihat bacaan-bacaan pertama dalam minggu ini. Kisahnya mirip: kalau gak mengindahkan Kitab-Nya, umat pilihan Allah pun akan dihancurkan. Ini bisa dilihat dari bagaimana raja Israel memimpin. Ada yang baik, ada yang jahat. Tolok ukurnya: mengindahkan Kitab Suci atau tidak. Ini bukan semata soal pemeliharaan fisik Kitab Sucinya, disampuli plastik anti debu, disimpan di lemari, saat kebakaran tak ikut terbakar(!), melainkan soal apakah orang merealisasikan Sabda Allah atau tidak.

Itu juga disinggung dalam bacaan kedua yang memuat metafor orang yang membangun rumah di atas pasir dan di atas batu. Orang bijak itu laksana orang yang mendirikan bangunan di atas batu; banjir datang, rumahnya tak ikut hanyut. Batu adalah metafor untuk Sabda Allah itu, dan itulah yang disebut rahmat berharga. Tak mungkin orang bisa secara murahan menerima rahmat berharga seperti itu. Tiada guna orang hafal seluruh isi Alkitab tetapi dalam tegangan hidup konkret maunya memaksakan tafsir tunggalnya sendiri. Mbelgedhes gombal amohlah orang yang setiap hari membaca Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tetapi doanya tak berubah format dari minta sepeda sampai helikopter. Naiflah orang yang menggumuli Jalan Kebenaran tetapi tolok ukurnya selalu berupa pikiran sendiri dan tak membuka mata pada realitas sosial politik di sekelilingnya.

Die teure Gnade atau The Costly Grace, meskipun gratis, senantiasa berupa perjuangan umat beriman untuk mencemplungkan dirinya dalam aneka ranah kehidupan, bukan untuk mengokohkan diri sendiri, agama sendiri, partai sendiri, keluarga sendiri, melainkan untuk mengukuhkan Allah yang hendak meraja bagi semua orang. Tanpa penyemplungan diri ke proyek besar itu, rahmat yang dimohon orang adalah rahmat murahan, tak ada harganya, tak ada maknanya. Dalam term Kristiani, rahmat mahal itu adalah soal mengikuti Kristus. Dalam term lain, sumonggo silakan cari.

Tuhan, bantulah kami untuk bergerak melibatkan diri dalam proyek keselamatan-Mu dan tidak terus sibuk dengan diri sendiri. Amin.


KAMIS BIASA XII B/2
23 Juni 2016

2Raj 24,8-17
Mat 7,21-29

Kamis Biasa XII B/1 2015: Beriman Itu Ada Ujiannya
Kamis Biasa XII A/2 2014: Doa Ritual Saja Tak Cukup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s