Doa Ritual Saja Tak Cukup…

KAMIS BIASA XII
26 Juni 2014

2Raj 24,8-17
Yoyakhin lebih memilih mendasarkan pemerintahannya pada kepastian, lebih daripada Sabda Allah dan dengan demikian ia menghancurkan dirinya sendiri maupun pemerintahannya. Ia melakukan yang jahat di mata Tuhan. Yang jahat itu bukan pertama-tama soal bahwa mereka tidak beribadat lagi kepada Tuhan. Mereka tetap melakukan korban persembahan dalam ibadat mereka (tetap pergi ke tempat ibadat). Akan tetapi, masalahnya ialah bahwa Tuhan rupanya lebih berkenan pada pelaksanaan kehendak-Nya lebih daripada kepastian-kepastian yang dijanjikan oleh nabi-nabi palsu.

Mat 7, 21-29
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

Yesus menyodorkan dua wanti-wanti atau peringatan. Pertama, ibadat pujian atau persembahan bukanlah sebuah sufficient condition bagi pondasi iman seseorang. Yang kedua…yang kedua, cepat atau lambat dengan cara tertentu badai kehidupan akan tiba dan hanya mereka yang pondasinya kuatlah yang akan bertahan. 
Doa dan kehidupan semestinya bertemu secara komplementer. Ibadat, doa pujian tentu bisa menjadi titik tolak suatu tindakan iman, tetapi jelas bukan sufficient condition: orientasinya adalah mendengar Sabda Allah sendiri dan esensinya adalah mewujudkan Sabda Allah itu dalam keseharian hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s