Hidupku Proyek-Mu, Hidup-Mu Proyekku

Beberapa hari yang lalu BBC menyajikan liputan lifestyle yang mulai marak di Jepang: less is more, minimalism in Japan. Videonya bisa dilihat pada tautan ini. Orang mencukupkan dirinya dengan apa yang esensial. Inspirasinya datang dari filsafat Zen. Artinya, orang tak perlu agama untuk menghidupi lifestyle minimalis ini. Filsafat sudah memberi fondasi yang kokoh. Andaikan saja sekian milyar orang di bumi ini menerapkan lifestyle serupa, barangkali aneka persoalan yang memicu perang di sana-sini bisa diminimalkan juga. Ya, tapi apa gunanya berandai-andai?

Ada sosok dalam Kitab Suci yang muncul dalam benak saya ketika membaca sajian BBC itu: Yohanes Pembaptis, yang kelahirannya dirayakan Gereja Katolik hari ini. Ia juga mencukupkan dirinya dengan apa yang esensial. Pakaiannya terbuat dari kain yang ditenun dari kulit dan bulu unta (persisnya saya sih gak tau). Ikat pinggang dari kulit binatang dan mantel kemungkinannya juga dari kulit domba yang berbulu (katanya ini jenis pakaian yang masih dikenakan orang kampung di Palestina). Pokoknya, pakaiannya enak dipakai, gak bikin rempong dan sangat cocok untuk keadaannya sebagaimana orang kebanyakan. Makanan dan minuman Yohanes ini juga esensial sekali: belalang (yang siang makan nasi kalau malam minum susu) dan madu hutan (dan pasti kolesterol Yohanes di bawah 200)! Entah dia tidur di mana, tapi pasti cukup untuk mengistirahatkan tubuhnya.

Dari mana munculnya lifestyle yang dihidupi Yohanes Pembaptis? Kalau menilik situasi orang Yahudi pada masa hidupnya, saya yakin sih bukan dari filsafat gaya hidup. Orang Yahudi pada masa itu sedang menanti-nantikan kedatangan sosok yang mereka sebut Mesias, dan lifestyle yang dihidupi Yohanes kiranya tak jauh melenceng dari antisipasi itu. Ia menghidupi gaya hidup minimalis bukan semata alasan ekonomis untuk menekan biaya hidup demi menyiapkan masa depan yang berkelimpahan untuk dirinya dan keluarga. Yohanes tidak sedang menerapkan filsafat hidup yang menjamin kebahagiaannya sendiri.

Gaya hidupnya muncul sebagai konsekuensi atas kerinduan akan sosok Mesias. Dalam gaya hidupnya direpresentasikan pribadi yang tak terbelenggu oleh apa saja yang membelenggu orang pada umumnya. Orang menangkap bahwa Yohanes menghadirkan Misteri Allah. Ia tak punya apa-apa dan cinta Allah senantiasa menguasai mereka yang tak punya apa-apa. Maka dari itu, orang seperti ini malah jauh lebih ‘sibuk’ merekayasa kehidupan, bukan untuk kenyamanan dirinya, melainkan untuk kenyataan rohani yang senantiasa mencari jalur insani. Ini sudah dirintis oleh orang tua Yohanes Pembaptis yang ‘mau tak mau’ bekerja sama dengan proyek Allah.

Lagi-lagi saya sitir tulisan Dietrich Bonhoeffer (Teolog Lutheran yang jadi martir pada masa Nazi): kehidupan ini adalah proyek Allah bersama kita. Tak banyak orang yang suka dengan ungkapan ini dalam tindakan konkret mereka; mereka lebih senang menyerahkan hidup pada ‘takdir yang digariskan Tuhan‘ sementara hidupnya ya berprinsip sukak-sukak gue dan begitu yakin bahwa tujuan menghalalkan cara karena malas berpikir (tapi mau menangnya sendiri)!

Tuhan, mohon kekuatan supaya dalam setiap momen aku terpaku pada cinta-Mu yang menumbuhkembangkan pribadi-pribadi yang kujumpai. Amin.


HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS
(Jumat Biasa XII)
24 Juni 2016

Yes 49,1-6
Kis 13,22-26

Luk 1,57-66.80

Posting Tahun 2015: Pintu Teater Telah Dibuka
Posting Tahun 2014: Bersyukur Itu Gak Gampang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s