Merazia Tuhan

Video razia warung belakangan ini menjadi viral dan konon aliran dana untuk pemilik warung itu mencapai ratusan juta rupiah. Kepedulian netizen itu fantastis ya; daripada cuma berwacana (misalnya menulis blog, ehem), lebih baik berbuat sesuatu. Iya sih, tapi berbuat sesuatu tanpa fokus pada akar persoalan kiranya juga seperti mengatasi kebakaran dengan mencipratkan air: bukannya memadamkan, malah membuat api semakin garang.

Posting ini bukan polemik atas tindakan spontan penggalangan dana, dengan segala hormat kepada netizen yang tergerak hatinya untuk memencet tuts dan mengirimkan sejumlah uang untuk korban razia (yang masih bisa diperdebatkan apakah korbannya cuma pemilik warung atau juga aparat yang bercadar atau yang omong tanpa melihat lawan bicara laksana robot). Posting hari ini, seturut bacaan sumbernya hendak bicara soal pengampunan.

Pengampunan biasanya diasosiasikan dengan kesalahan, dosa, denda, atau hukuman. Kalau kesalahan itu berhubungan dengan hukum Tuhan, kita menyebutnya dosa dan kemudian kita minta ampun sedemikian rupa sehingga Allah tak sampai marah-marah dan menghukum kita dengan penyakit, nasib sial, bencana tsunami, atau gempa bumi, misalnya. Akan tetapi, gagasan macam itu jelas menunjukkan paham Allah yang aneh: Tuhan punya otoritas sedemikian rupa sehingga kalau ada orang yang melanggar otoritas-Nya, Dia akan berpencak silat dan menjewer atau menendang orang yang berdosa itu!

Itu adalah paham Allah yang infantil alias kekanak-kanakan, bahkan meskipun dipelihara oleh orang-orang uzur. Ayo berpikir lebih dewasa sedikit. Bacaan pertama menyodorkan kisah teguran Natan terhadap Daud yang berselingkuh dengan istri Uria dan bahkan urusannya sampai merenggut nyawa Uria. Natan menegaskan bahwa Daud telah menghina Tuhan dan Daud sendiri tersadar bahwa ia berdosa kepada Tuhan. Tetapi mari kita lihat baik-baik: apakah Tuhan rugi, menderita, sakit hati, sedih, prihatin? Iya, Tuhan sedih melihat manusia berdosa, tetapi itu adalah bahasa metafor. Tuhan sendiri tak tergores, harga dirinya gak merosot.

Maka, perempuan sundal dalam teks hari ini, yang nyelonong masuk ke pesta orang Farisi dan menemui Yesus, tidak diceritakan meminta pengampunan kepada Yesus supaya hukuman atas dosanya mendapat discount jelang hari raya! Pengampunan Tuhan tidak bekerja dengan logika macam begitu. Pengampunan Tuhan sudah terjadi sebelum orang memintanya. Supaya lebih gampang lagi memahaminya, mari kembali ke ilustrasi yang disodorkan Stephen R. Covey tentang kapten kapal perang Amerika dan petugas mercu suar. (Silakan klik link itu untuk melihat ceritanya dalam bahasa Inggris) Dalam ilustrasi itu, pengampunan Tuhan terletak pada tersadarnya kapten kapal perang akan kesalahannya. Kesalahan kapten kapal perang itu takkan melukai Tuhan, tetapi melukai dirinya sendiri kalau ia tak bertobat.

Perempuan sundal itu meneteskan air mata bukan karena ia sedih dan minta potongan hukuman, melainkan karena ia tersadar akan ‘salah jalan’-nya lengkap dengan penderitaan yang diakibakannya. Ia begitu gembira karena menemukan rel yang tepat bagi hidupnya dan itulah pengampunan Allah. Ia menghendaki orang kembali ke relnya menuju Allah. Sayangnya, ada orang-orang yang hendak membuat monorel untuk siapa saja semata karena ia jadi bupati, camat, gubernur dll dengan modal paham Allah yang infantil.

Tuhan, semoga aku semakin dapat merasakan cinta-Mu dan semakin memahami bahwa Engkaulah Cintaku. Amin.


HARI MINGGU BIASA XI C/2
12 Juni 2016

2Sam 12,7-10.13
Gal 2,16.19-21
Luk 7,36-50

Hari Minggu Biasa XI B/1 Tahun 2015: Berminat Jadi Polisi Gereja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s