Love Knows No Limits

Ini juga berdasarkan kisah nyata. Andaikanlah Anda perempuan yang punya suami tanpa pekerjaan yang menjanjikan. Anda berhasil membeli rumah untuk Anda dan suami Anda. Suatu kali, jelas bagi Anda bahwa suami Anda ini punya selingkuhan wanita lain dan tak tanggung-tanggung, ia kerap mengajaknya ke rumah. Tidak berhenti di situ, akhirnya perempuan itu pun tidur di rumah yang Anda beli itu bersama suami Anda. Masih mau yang lebih mengerikan lagi? Suami Anda meminta Anda tidur di ruang tamu depan sementara ia bersama selingkuhannya tidur di kamar.

Mungkinkah itu terjadi pada Anda? Mungkin sih, tapi sebaiknya jangan ya. Minimal saya tak mengharapkan demikian, tetapi ini bukan kisah rekaan bahwa hal itu terjadi untuk jangka waktu lebih dari satu repelita [hah…istilah jadul orba!] dan sang ibu bertahan dalam situasi mengenaskan itu sampai akhirnya suaminya tersadarkan, bertobat, dan selingkuhannya itu tak lagi mengganggu hidup berkeluarga mereka. Apakah hidup berkeluarga mereka jadi kembali seperti sedia kala, saya tak tahu, tetapi saya kira malah sang ibu ini semakin masuk ke kedalaman hidupnya.

Yang dibuat ibu itu sangat sederhana: mendoakan suaminya (selain menyediakan makan). Masalahnya, untuk mendoakan sosok yang menyakiti dan menganiaya itu ya tidak gampang. Saya tak sempat menanyai sang ibu bagaimana ia bisa menjalani hidup seperti itu dan mendoakan orang yang jelas-jelas menganiayanya. Akan tetapi, tanpa perlu mengalaminya sendiri orang bisa mengerti bahwa dalam diri sang ibu itu ada kemampuan untuk mengampuni yang muncul dari sikap batinnya untuk merelatifkan hal-hal yang relatif sifatnya. Ia tidak sedang membangun komitmen dengan manusia sempurna.

Ia menerima perkawinan sebagai ikatan suci, bukan karena diresmikan agama, melainkan karena ia memilih perkawinan itu sebagai jalan peziarahannya menuju Allah. Komitmennya pertama-tama dengan Allah, dan dari pihaknya dituangkan dalam komitmennya pada suami. Lha, kalau yang utama adalah komitmen dengan Allah, memang yang lain-lain jadi relatif (suaminya ternyata setia atau tidak, komitmennya ternyata kuat atau lemah, perhatian atau tidak, dan seterusnya). Yang memungkinkan orang untuk merelatifkan lain-lainnya itu justru adalah disposisi batin pengampunan. Pengampunan membuat cinta tak mengenal batas. Maaf ya, jangan pakai kalimat ini untuk memopulerkan cinta perkawinan yang tak pandang agama, usia, ras, bangsa dan sebagainya. Tendensi konyugal itu memang cuma butuh jodoh yang klop tanpa perlu pandang latar kultur agama atau usia. Itu gampang, rewarding dan instingtif juga.

Makna hidup tidak ditemukan dalam ranah yang gampang, rewarding dan instingtif itu, tetapi dalam konteks yang lebih luas: semakin membawa orang kepada Allah atau tidak. Pengampunan membuat cinta tak kenal batas karena pengampunan itu sendiri berbau-bau ilahi terhadap kerapuhan manusiawi. Keutamaan yang berbau-bau ilahi itu tak mengenal batas, termasuk kematian. Dalam perspektif Kristiani, kebangkitan Yesus itu jadi konfirmasi bahwa di ujung kebrutalan manusia sana, masih ada harapan bahwa Allah menyodorkan cinta sejati-Nya. Itu mengapa pengampunan lebih dekat pada pemahaman akan kerapuhan orang lain daripada penyesalan bahwa ketemu dengan pribadi yang mencederai hidup kita.

Ya Allah, mohon rahmat pengampunan-Mu. Amin.


SELASA MASA BIASA XI B/1
16 Juni 2015

2Kor 8,1-9
Mat 5,43-48

Selasa Biasa XI C/2 2016: Perluas Batas Sesama
Selasa Biasa XI B/1 2015: You’ll Never Be Perfect *

Selasa Biasa XI A/2 2014: Doakanlah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s