Menjual Diri

Sewaktu kami gathering panitia Hari Orang Muda Asia, yang membagikan minum, snack, dan makan dari pagi sampai sore hari di antaranya adalah dua gadis muda muslimah yang berpuasa. Saya salut. Karena mereka berpuasa di tengah-tengah orang yang berpesta? Bukan, itu mah wajar. Salut saya ialah bahwa mereka bekerja keras dalam puasa! Saya memberi dukungan minimal dengan kata-kata penghiburan, dan di sore hari, mereka tak kuasa menahan kelelahan dan duduk di anak tangga auditorium sambil minum buka puasa.

Gambaran itu saya pakai untuk memahami relasi manusia dan Allahnya yang seperti kontrak jual-beli. Manusia menjual dirinya kepada Allah dan sebaliknya. Secara objektif, adakah keadilan personal dalam kontrak jual beli ini? Gak ada! Ini bukan soal bahwa Allah Mahabesar dan manusia cuma seuprit. Ini soal totalitas jual dirinya. Dealnya ialah jual diri secara total, tetapi apakah manusia senantiasa menjual dirinya secara total? Tidak.

Lihat misalnya bagaimana protes orang beragama terhadap Tuhannya: Ya Allah, kurang apa aku ini, aku sudah beribadah seturut aturannya, sudah memberikan sedekah lebih dari aturannya, sudah meninggalkan iming-iming surgawi korupsi berjamaah, sudah berpuasa dan berdoa dengan tekun, kok hidupku ya gini-gini aja? Gak dapat pekerjaan, gak dapet jodoh, dapet jodoh sekali aja gak jodoh lagi, pasangan selingkuhlah, kecelakaan ini itulah, dan seterusnya.

Myaaahahaha…. lu kire lu berdoa dan berpuasa? Berdoa dan berpuasa untuk menundukkan Allah pada proyek pribadi? Itu persis yang dilukiskan dalam teks bacaan kedua hari ini: orang-orang munafik, yang cuma menjalankan ritual doa dan puasa, tapi tak ‘menjual dirinya’ secara total. Apa itu ‘menjual diri’ secara total kalau bukan self-dispossession? Alhasil, kalau orang munafik, doa dan puasa itu jadi ritual belaka, jadi tunggangan untuk memuliakan dirinya sendiri, mencari kejayaan hidupnya sendiri: suami yang 100% setia, istri yang murni sepanjang hayat, pekerjaan mapan, rumah idaman, dan sebagainya.

Terhadap posting kemarin ada komentar sadis (atas kisah seorang ibu yang bertahan dalam penderitaan sampai suaminya bertobat) di media sosial, yang mungkin disisipkan oleh peretas, bunyinya begini: loh selama ini pura2 dalam perahu e bukan tahu2, gt aja nda paham, bego kuadrat, jangan kebanyakan rohani, duniawi jadi gagal, keliling sana, biar logis kl ngasih tahu ckck. Saya terkejut karena itu tertulis dari akun yang saya kenal orangnya, tetapi kalimat itu tidak meyakinkan saya ditulis olehnya. Anyway, pun dari situ ada poinnya: jangan kebanyakan rohani, duniawi jadi gagal! Itu betul, sejauh rohani berarti ritual.

Jika rohani lebih dalam dari ritualisme, orang berdoa bagi suatu self-dispossession sehingga mampu membangun relasi yang memungkinkan suami 100% setia dan istri murni sepanjang hayat. Orang rohani berdoa bukan supaya dapat rumah idaman, melainkan supaya diberi kekuatan untuk mewujudkannya. Orang beriman bekerja bukan untuk memuliakan dirinya, melainkan memuliakan Allahnya: bukan dari hasilnya, melainkan dari totalitas pemberian dirinya. Itu mengapa saya terkesan pada dua gadis muslimah yang bekerja keras dalam puasa mereka.

Ya Allah, semoga kami senantiasa berupaya sekuat tenaga kami dalam rengkuhan cinta-Mu. Amin.


RABU BIASA XI A/1
Peringatan Wajib S. Aloysius Gonzaga (SJ)
21 Juni 2017

2Kor 9,6-11
Mat 6,1-6.16-18

Rabu Biasa XI C/2 2016: Ekshibisionisme Agama
Rabu Biasa XI B/1 2015: Puasa Oh Puasa

Rabu Biasa XI A/2 2014: Vanity, Target Orang Muna’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s