Akhlak Mulia

Saya baru tahu ada award untuk akhlak mulia justru setelah ada kabar OTT KPK (asem tenan KPK, dibuat untuk memberantas korupsi kok malah memberi kesan korupsi semakin banyak, hahaha… itu kata seorang wakil rakyat, tapi rakyat itu dirinya sendiri). Heran juga, berani-beraninya orang menerima penghargaan akhlak mulia. Non sono degno (baca: non sono denyo), saya tak pantas. IMHO, merasa diri tak pantas di hadapan Tuhan memang bukan alasan untuk tidak merindukan-Nya, tapi merasa diri tak pantas sebagai makhluk berakhlak mulia mestinya jadi alasan untuk tidak menginginkan atribut itu (bingung gak? Meditasi dulu deh).

Budi pekerti seseorang dibangun terus menerus sampai akhir hayatnya. Memang ada rambu-rambu yang bisa disepakati sebagai tanda budi pekerti yang baik, tetapi lagi-lagi dalam diri setiap orang ada unsur rapuh yang bisa saja pada momen tertentu meruntuhkan budi pekerti yang selama itu digumulinya. Kerapuhan itu cuma bisa dilawan dengan kejujuran dan kerendahan hati, tentu dalam hidup bersama disertai dengan tekad kuat untuk berkomitmen. Tanpa unsur-unsur itu, label akhlak mulia hanya akan jadi wujud manis dari teror, tak perlu disebut contohnya, terlalu banyak. Memang ini lebih enak dilihat daripada teror seperti di Timur Tengah atau Mindanao. Akan tetapi, keduanya sama-sama melumpuhkan kepercayaan terhadap itikad baik hidup bersama.

Itikad baik hidup bersama bisa dilihat juga dalam doa Bapa Kami yang disodorkan teks hari ini. Doa ini bisa jadi merupakan skandal bagi praktik agama saat itu (dan mungkin sampai sekarang). Dalam situasi masyarakat yang sangat formal dan ritual, suasana doa yang cair tentu jadi skandal. Tak usah jauh-jauh, saya sendiri tak suka doa orang dewasa yang diawali dengan “Selamat pagi, Bapa”. Bahkan ada lagunya juga [sepertinya cuma cocok dinyayikan pagi hari]. Kenapa? Karena doanya jadi terlalu cair. Dalam suasana cair yang keterlaluan, orang tak terbantu menata kesadarannya (pada Yang Transenden).

Saya tidak sedang promosi doa Bapa Kami tetapi melihat apa yang bisa dipelajari dari situ. Doa ini menyodorkan suasana cair tanpa merusak wibawa Allah karena dalam di situ ada dua petisi (bdk. posting Ayo Petisi Tuhan), tentang relasi dengan Allah dan manusia, yang ditujukan juga kepada Allah dan manusia. Penjungkirbalikan sasaran doa ini bisa bikin runyam. Orang memang mesti memuliakan nama Allah dalam mendatangkan kerajaan-Nya dengan melaksanakan kehendak-Nya. Akan tetapi, penilaian akhirnya tidak ada pada manusia. Maka, biar Allah mengurusnya dan manusia tak perlu ribut dengan atribut Allah YME!

Sebaliknya, Allah bukan semacam vending machine yang perlu disogok dengan duit. Meminta ‘rezeki kami hari ini’ tak lain daripada mengupayakan bonum commune. Lha ini bukan urusan Allah YME itu, sekurang-kurangnya bukan urusan langsung-Nya! Manusialah yang mesti mengelola, membangun komitmen bersama, merealisasikan pengampunan, menciptakan lapangan pekerjaan bersama, memprotes wakil rakyat yang brengsek, memperkokoh KPK yang tulus, bekerja keras untuk kepentingan bersama dan sebagainya (bukannya malah mengatasnamakan urusan Allah tadi untuk meneror orang lain). Dengan begitulah akhlak mulia bisa diperjuangkan.

Ya Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan supaya kami mengenali mana yang bisa kami ubah seturut kehendak-Mu. Amin.


Kamis Biasa XI A/1
22 Juni 2017

2Kor 11,1-11
Mat 6,7-15

Kamis Biasa XI C/2 2016: Nabi… Bir Lu
Kamis Biasa XI B/1 2015: Ayo Petisi Tuhan
Kamis Biasa XI A/2 2014: Jakarta-Indonesia PP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s