Kisah Cinta-Ku

Janjané mêsakké ya Yesus dari Nazaret itu. Kebanyakan orang Yahudi pada zamannya tak mau mengakui kebangkitannya karena dia itu manusia biasa saja dan pengikutnya dianggap memberhalakan Yesus sebagai Allah. Ironisnya, pengikutnya sendiri terpecah-pecah; ada yang ngotot dia itu Allah, ada yang cari jalan tengah Allah-manusia, tetapi saya curiga, jauh lebih banyak pengikutnya yang memberhalakan Yesus. Dari mana muncul kecurigaan saya? Dari banyaknya orang yang menganggapnya sebagai “makhluk lain” ketika diminta untuk mengampuni, mencintai tanpa batas, dan sejenisnya,”Ya dia kan bukan manusia biasa, saya ini orang biasa, jadi gak bisa dituntut seperti dia dong.” Maksudnya, apa yang dibuat Yesus sebagai manusia itu too good to be true, tak bisa dibuat manusia biasa. Mêsakké kowé Sus, Sus.

Kalau Anda berkesempatan pergi ke Milan dan mau sedikit menimba makna kehidupan dari mosaik yang ada di Casa Incontri Cristiani, Capiago (baca: kasa inkontri kristiani, kapiago), sumonggo loh. Kalau tak punya kesempatan ke sana, saya kasih bocoran dari tetangga saya deh. Di situ ada kapel yang dihiasi ornamen mosaik bikinan artis Slovakia bernama Marko Ivan Rupnik (SJ). Pesan pokok yang saya tangkap dari mosaik-mosaik itu ialah cerita cinta yang terwujud dalam keseharian hidup orang biasa. Kenapa saya menangkap begitu? Pertama, karena batu yang dipakai Rupnik untuk membuat mosaik itu bukan cuma sejenis, melainkan terdiri dari aneka macam batu yang bisa ditemukannya dalam keseharian hidupnya. Kedua, karena memang adegan-adegan yang dipilih artis itu adalah adegan cinta.

Tapi ya gimana ya, saya tak tahu frase ‘adegan cinta’ itu dipersepsikan bagaimana oleh pembaca. Yang saya persepsikan sih adegan bagaimana Allah Yang Mahabesar itu menjejakkan tapaknya dalam keseharian hidup manusia. Tentu saja ada begitu banyak adegan cinta seperti itu: ketika Allah menurunkan Kitab-Nya kepada para nabi atau orang terpilih yang bisa menuntun banyak orang lainnya kembali ke rengkuhan cinta ilahi. Pada kenyataannya, setiap momen hidup sebetulnya adalah adegan bagaimana cinta Allah itu ditanggapi manusia. Tentu adegan yang diambil terbatas dan batas yang diambil Rupnik juga jelas: kisah cinta Allah yang ditangkap orang-orang Kristiani. Lima adegan yang dipilih Rupnik: warta malaikat kepada Maria, kelahiran Yesus, pengurapan minyak wangi oleh perempuan, Yesus dan perempuan Samaria, dan penyaliban Yesus. Interpretasi terhadap mosaik itu bisa dituliskan dalam satu buku sendiri, terlalu kaya makna.

Akan tetapi, sekali lagi, pesan utama yang bisa dipetik ialah cerita cinta Allah dalam keseharian hidup orang, yang dalam teks hari ini dikatakan: disembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi dinyatakan kepada orang kecil. Nah, kalau orang merasa diri pandai (dan dengan demikian tidak bijak), apapun agamanya, kisah cinta Allah itu takkan ditangkapnya. Yang bisa menangkap adegan cinta Allah itu adalah ‘orang kecil’. Tolok ukur kecilnya bukan dalam arti ekonomi, kultur, agama, atau politik, melainkan keterbukaannya pada Sabda Allah dalam hati orang. Semakin orang terbuka, semakin kecillah ia di hadapan misteri cinta Allah yang begitu dahsyat. Masuk akal juga kan, wong terbuka aja masih gak paham, gimana kalau tertutup?

Ya Allah, berikanlah kepadaku hati yang tulus untuk menularkan cinta-Mu. Amin.


HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS A/1
Jumat, 23 Juni 2017

Ul 7,6-11
1Yoh 4,7-16
Mat 11,25-30

Posting Tahun A/2 2014: Hati Yesus Yang Mahakudus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s