Apa Arti Namamu

Saya kira belum ada survei mengenai bagaimana orang tua muda belakangan ini memberi nama kepada anak mereka. Dugaan saya, lebih banyak pasangan muda yang memberi nama pertama-tama berdasarkan segi estetis, puitis, romantis daripada segi kultis ataupun etis nan nylekuthis. Yang penting namanya bagus dan enak kedengarannya; semakin langka namanya, semakin joss.

Bacaan hari ini menampilkan pasutri yang sudah amat tua tetapi rupanya dalam memberi nama kepada anak mereka itu mengikuti juga salah satu pertimbangan pasangan muda zaman sekarang: makin jarang dipakai, makin mantap. Tak ada orang kampung mereka yang menduga bahwa nama anak mereka itu bakal jauh-jauh dari nama ayahnya, Zakharia. Namanya jauh melenceng dari yang mereka duga: Yohanes.

Apakah nama itu puitis, estetis, romantis? Entahlah… sepertinya malah tidak, karena nama Zakharia sendiri sudah bernama romantis: mengingat-ingat janji Allah. Pertimbangan mereka lebih etis sifatnya: nama baru itu menunjuk langsung pada belas kasih Allah yang hendak direalisasikan lewat anak itu. Sik sik sik, apakah memang pasutri itu menimbang-nimbang penamaan anak mereka? Saya juga tak tahu, tetapi kalau dari teks kelihatan bahwa penamaan itu adalah intervensi malaikat.

Jarang-jarang orang mengharapkan intervensi Yang Transenden untuk menamai seseorang. Maunya intervensi itu terjadi dalam situasi-situasi susah: penyakit akut, kecelakaan, atau kesusahan hidup lainnya. Orang maunya intervensi itu benar-benar merupakan pengambilalihan tanggung jawab manusia. Pokoknya manusia tinggal terima jadi ajagak perlu keterlibatan.

Sayang sekali, intervensi Allah kali ini terjadi dalam momen penamaan orang dan penamaan orang adalah sebenarnya peletakan harapan kepada pribadi yang dinamai itu supaya harapan itu terealisasi dalam hidup ini. Tak ada orang yang menamai anaknya Slamet supaya ia selamat keluar masuk penjara, atau memberi nama Agung supaya anaknya kelak dicemplungkan ke kawah gunung Agung, atau jadi karyawan di toko buku #halah.

Nama Yohanes ini mengundang pembaca untuk bertanya: Sudahkah aku merealisasikan Allah yang berbelas kasih? Apakah aku berupaya menyatakan dalam hidup konkret Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang? Atau malah aku memberi gambaran kepada dunia Allah yang sangar?

Tentu, nanti ada bahaya bahwa pengasih dan penyayang itu berarti membiarkan perbuatan semena-mena karena orang beriman kan harus mengampuni, membuka peluang rekonsiliasi, dan seterusnya. Memang bahaya itu ada ketika orang beriman tidak bisa lagi memahami kerohanian sejati. Tidak ada rekonsiliasi tanpa pengorbanan: mosok iya kerugian negara diselesaikan dengan maaf doang, maaf mbahmu, hahaha. Maaf ya maaf, penitensi atau silih ya jalan terus toh.

Ya Allah, mohon rahmat keteguhan hati untuk menghidupi belas kasih-Mu. Amin.


HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS
(Sabtu Biasa XI)
24 Juni 2017

Yes 49,1-6
Kis 13,22-26

Luk 1,57-66.80

Posting Tahun 2016: Hidupku Proyek-Mu, Hidup-Mu Proyekku 
Posting Tahun 2015: Pintu Teater Telah Dibuka

Posting Tahun 2014: Bersyukur Itu Gak Gampang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s