Hari Kemenangan

Ketakutan tak membawa kemenangan, juga tak menuntun orang pada rida Allah, malah bisa menggerogoti keimanan. Ini bisa dibaca dari cerita pendek Robohnya Surau Kami, dan bisa juga dimengerti dari praktik hidup sehari-hari. Saudara-saudari yang beragama Islam baru saja menyelesaikan masa puasa dan tiba pada hari kemenangan ini dan teranglah bahwa ketakutan tak menambah nikmat hidup beriman, melainkan malah ngrecokin doang. Siapapun yang tulus menunaikan ibadah puasa akan mantap mengatakan bahwa Allah Yang Mahabesar itu menjadi tuntunan lebih dari yang lainnya, penyelenggara hidup yang memerdekakan, yang dengan-Nya ketakutan tak krasan.

Ancaman teror terhadap mesjid agung di Mekah yang berujung pada bom bunuh diri pun menegaskan bagaimana ketakutan semakin menjerumuskan orang jauh dari rida Allah, bahkan jika klaimnya ialah demi menegakkan hukum Allah sendiri. Tak ada hukum Allah yang mendorong orang untuk mencintai kematian daripada memelihara kehidupan. Betul orang itu tidak takut mati, tetapi artinya juga dia tak punya keberanian untuk hidup dalam terang Allah sendiri yang jauh lebih agung daripada wawasan sempitnya yang memberi kesan kuat tetapi sebenarnya sudah keblinger.

Bacaan hari ini memang bicara juga soal landasan mengapa orang tak perlu takut dalam hidup beriman: karena panggilan hidup beriman kita jauh melampaui aneka hiruk pikuk dunia ini. Hidup beriman tak identik dengan kesuksesan pekerjaan atau pendongkrakan status hidup di mata masyarakat pada umumnya atau aneka kompetisi yang dibuat di sana sini. Maka, tak dipungkiri juga bahwa orang takut kalau-kalau ISIS bakal merebak ke Indonesia atau terorisme akan merangsek ke wilayah yang semula damai sentosa, takut rumahnya hancur, takut rumah tangga hancur dan sebagainya. Akan tetapi, pesan bacaan ini justru terletak di situ: ketakutan itu mesti diletakkan di hadapan kenyataan bahwa Allah Mahabesarlah yang berkuasa atas semua.

Alhasil, kalau orang mesti takut, ya takut pada Allah Yang Mahabesar itu, bukan kepada yang lain-lainnya. Akan tetapi, ketakutan kepada Allah Yang Mahabesar tak bisa disamakan dengan ketakutan pada dunia ini. Ini adalah ketakutan yang merujuk pada komitmen untuk mendengarkan dan melaksanakan Sabda-Nya yang melegakan, membebaskan, dan membahagiakan. Contohnya ya hari kemenangan ini. Selamat berhari raya Idul Fitri, semoga kemenangan Allah atas jiwa kita senantiasa nyata dalam kemanusiaan. Amin.


HARI MINGGU BIASA XII A/1
25 Juni 2017

Yer 20,10-13
Rm 5,12-15
Mat 10,26-33

Minggu Biasa XII C/2 2016: Kalau Mau…
Minggu Biasa XII B/1 2015: Capek Beriman?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s