Latihan Doa 19: Selamat Jalan kepada Yang Sudah Meninggal

Catatan: Janganlah melakukan latihan doa ini (juga latihan yang lainnya) secara terburu-buru. Setiap kali latihan bisa diulangi jika dibutuhkan. Anda bahkan perlu menuliskan jurnal doa dan mungkin perlu mengulangi membaca jurnal supaya nuansa kesedihan bisa masuk juga. Poin penting dalam latihan-latihan ini ialah untuk menghadapi diri dan Allah dan mengalami beberapa kualitas penyembuhan dan perlahan-lahan maju dalam pergumulan kehidupan.

1. Persiapan Doa (5-15 menit)

Memilih (baca semua secara sepintas lalu memilih salah satu yang dianggap menyentuh hati), menyiapkan bahan doa:
Yoh 11,1-44 (Akulah kebangkitan dan hidup)
1Kor 15,50-57 (Wahai maut, di manakah sengatmu)
Rom 8,31-39 (Jika Allah di pihak kita, siapa yang akan melawan kita?)
Rat 3,17-26 (Baiklah menanti, dalam keheningan, pertolongan Tuhan yang menyelamatkan)
Mencari tempat doa yang kondusif, menonaktifkan apa saja yang bisa mendistraksi kegiatan doa.
Mengambil posisi yang paling kondusif untuk berdoa (duduk tegak, bersila, telungkup… tapi mungkin posisi ini nantinya membantu orang untuk tidur)

Doa persiapan:

Tuhan Yesus, aku mohon rahmat kekuatan batin dan harapan karena tanpa itu aku tidak bisa sembuh dari sakit, khususnya dalam mengucapkan selamat jalan kepada orang-orang yang sungguh kukasihi dan belajar untuk terus maju dalam hidup dengan keberanian.

2. Doanya sendiri (20-60 menit)

  • Hadirkan diri di hadapan Tuhan. Jika sudah siap, imajinasikanlah di hadapanku sosok pribadi yang sangat kukasihi, yang sudah meninggal. Ambil waktu hanya untuk memandanginya dengan cinta.
  • Jika mungkin, bicaralah pada pribadi tersebut; sampaikanlah apa yang dulu selalu ingin kukatakan kepadanya.
  • Setelah itu, biarkan pribadi itu menanggapi apa yang kusampaikan. Ambil waktu untuk mendengarkan apa yang dikatakannya.
  • Setelah itu, tanggapi lagi apa yang sudah disampaikan oleh pribadi yang telah meninggal itu; sampaikan betapa aku sungguh kehilangan dan mengasihinya. Tinggallah dalam perasaan-perasaan itu (kehilangan dan menyayangi pribadi yang telah meninggal tadi) dan biarkan perasaan itu mendominasi hati.
  • Akhirnya, aku beranjak untuk menutup dengan secara eksplisit mengatakan selamat jalan atau selamat tinggal kepada pribadi yang kukasihi itu dan dengan memercayakannya kepada kasih Tuhan sendiri.

Melakukan wawancara batin

Mengimajinasikan Kristus yang bergantung di salib atau Bunda Maria dan menyampaikan hal-hal tadi dan mendialogkannya: perasaan kehilangan dan mengasihi pribadi yang telah meninggal; mohon rahmat penyembuhan batin dan kedamaian, juga rahmat khusus supaya mampu maju dalam hidup dengan keberanian.
Mohon berkat
Allah dan akhiri dengan rasa syukur yang tulus atas penyembuhan dan rahmat penghiburan, dengan doa Bapa Kami atau Jiwa Kristus atau Salam Maria.

3. Refleksi (5-15 menit)

Mencatat poin-poin penting dalam proses doa:
(1) perasaan-perasaan sebelum doa, pada saat doa, dan setelah selesai doa
(2) insight yang diperoleh dari doa tadi (baik yang bersifat informatif intelektual maupun spiritual)
(3) niat atau dorongan-dorongan yang muncul setelah doa.