Latihan Doa 26: Hidup Religius dan Kaul (1)

1. Persiapan Doa (5-15 menit)

Memilih (baca semua secara sepintas lalu memilih salah satu yang dianggap menyentuh hati), menyiapkan bahan doa:
Kel 3,4-14 (Panggilan Musa)
Sir 2,1-11 (Percayalah Tuhan dan Ia akan menolongmu)
Kis 20,17-38 (Ada lebih banyak kebahagiaan dalam memberi daripada menerima)
2Tim 1,6-14 (Roh yang diberikan kepada kita bukan roh pengecut)
Mencari tempat doa yang kondusif, menonaktifkan apa saja yang bisa mendistraksi kegiatan doa.
Mengambil posisi yang paling kondusif untuk berdoa (duduk tegak, bersila, telungkup… tapi mungkin posisi ini nantinya membantu orang untuk tidur)

Doa persiapan:

Tuhan Yesus, aku mohon rahmat ketabahan hati dan devosi kepada Allah karena memahami bahwa dalam hidup religius pada akhirnya, yang sesungguhnya diinginkan-Nya bukanlah prestasi, pencapaian, atau kesuksesan, melainkan kesetiaanku kepada-Nya.

2. Doanya sendiri (20-60 menit)

  • Kembalilah pada sejarah panggilan.
    Bagaimana akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam hidup religius?
    Peristiwa kunci apa saja yang menuntunku memutuskan hal itu?
    Siapakah pribadi-pribadi signifikan yang menjadi instrumen dalam memupuk dan mempertegas panggilan religiusku?
    Kembalilah kepada hal-hal itu dan nikmati kembali suasananya dalam doa.
  • Kapan sajakah aku merasa menjadi religius yang seautentik-autentiknya, seasli-aslinya?
    Apa yang kukerjakan saat itu? Dengan siapa sajakah aku saat itu?
    Nilai-nilai apa yang kuupayakan terungkap dan terhayati saat itu?
    Kembalilah ke hal-hal itu dan nikmati dalam doa.
  • Aspek-aspek hidup religius mana yang sangat kuhargai (on-going formation, hidup komunitas, hidup doa, hidup studi, karya dan kerasulan, kaul, spiritualitas, dll)?
    Sebutkan aspek-aspek itu dan klarifikasi bagaimana aku menghargainya dalam hati dan hidupku.
  • Tegangan dan kesulitan apa sajakah yang kualami dalam penghayatan kaulku?
    Mengapa? Bagaimana aku menata tegangan dan kesulitan itu?
    Doakanlah Kisah Para Rasul 20,17-38. Santo Paulus membuat pernyataan terkenal: ada lebih (banyak) kebahagiaan dalam memberi daripada menerima.
    Bagaimana ungkapan Santo Paulus ini benar dalam hidupku sebagai seorang religius?
    Kembalilah ke masa ketika mengalami “more happiness in giving than receiving” dan nikmatilah dalam hati.

Melakukan wawancara batin

Mengimajinasikan Kristus yang bergantung di salib dan dialogkanlah lima poin tadi: (1) sejarah panggilan, (2) masa ketika sungguh menghidupi autentisitas sebagai religius, (3) aspek-aspek hidup religius yang sangat kuhargai, (4) tegangan dan kesulitan dalam penghayatan kaul, dan (5) pengalaman akan kebahagiaan yang lebih besar dalam memberi daripada menerima.
Setelah itu, lihatlah apa yang paling kusyukuri dalam menghayati panggilan hidup religius, klarifikasi dan dialogkan juga dengan Yesus Kristus; lalu dengan jujur bertanya pada diri sendiri:
apa yang sudah kuperbuat untuk Kristus?
apa yang sedang kulakukan bagi Kristus?
apa yang akan kulakukan untuk Kristus?
Mohon berkat Allah dan akhiri dengan rasa syukur yang tulus atas penguatan Allah dan rahmat penghiburan, dengan doa Bapa Kami atau Jiwa Kristus atau Salam Maria.

3. Refleksi (5-15 menit)

Mencatat poin-poin penting dalam proses doa:
(1) perasaan-perasaan sebelum doa, pada saat doa, dan setelah selesai doa
(2) insight yang diperoleh dari doa tadi (baik yang bersifat informatif intelektual maupun spiritual)
(3) niat atau dorongan-dorongan yang muncul setelah doa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s