Dua jenis golput…

Pada awal tahun 70-an golput dicetuskan sebagai gerakan moral para mahasiswa yang kritis untuk melawan dominasi partai penguasa. Tak mengherankan bahwa golput ditentang oleh partai penguasa. Logikanya sederhana: golput mengurangi perolehan suara partai penguasa. Oleh karena itu, golput pada masa itu pantas dipuji sebagai strategi perlawanan terhadap kecenderungan status quo partai penguasa. Kebanyakan dari mereka mencoblos sedemikian rupa sehingga suaranya tidak sah. Makin sedikit suara makin lemahlah legitimasi penguasa yang korup!

Nah, belakangan ini muncul lagi wacana golput yang menyodorkan nilai kebebasan semu: memilih untuk tidak memilih adalah sebuah pilihan!  Akan tetapi, golput ini tampaknya ditentang bukan oleh penguasa saja, melainkan oleh masyarakat sipil yang peduli pada perubahan. Indikasinya sederhana: panitia pilpres di luar negeri tak mengantisipasi lonjakan jumlah pemilih yang begitu signifikan, bagaimanapun skenarionya. Golput macam ini barangkali adalah representasi golongan putus asa: malas berpikir, tak disiplin dalam membuat analisis, tak mau repot terlibat untuk menentukan diri maupun masyarakat.

matt10-5
Yesus tidak golput. Ia memilih para rasul di antara sekian orang yang dikenalnya. Lah, mosok ini dipadankan dengan pilpres? Pilihan Yesus jelas bukan pilihan pemimpin negara!

Memang betul, tetapi mari dilihat prosedur Yesus dalam memilih. Yesus punya visi dan misi yang jelas mengenai kehidupan sekaligus strategi yang jitu untuk mewujudnyatakan visi dan misi itu. Ia tidak memilih orang yang tanpa cela di hadapan publik, tetapi ia mengenali betul rekam jejak orang yang dipilihnya. Semuanya dipilihnya dengan misi pewartaan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat.

Apa ciri Kerajaan Surga yang mendekat itu? Dalam perikop ini diungkapkan bahwa para rasul diberi kuasa untuk mengusir roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Artinya, Kerajaan Surga itu menjadi representasi keadaan yang didominasi oleh roh kebaikan, yang menyehatkan dan menguatkan orang. Ini tak perlu ditafsirkan sebagai rekomendasi untuk memilih capres yang baik, yang menawarkan program kartu kesehatan. Yang penting coblos saja nomer dua karena Jerman menang telak 7-1 atas Brasil… tidak ada hubungannya, bukan?


RABU BIASA XIV A/2
9 Juli 2014

Hos 10,1-3.7-8.12
Mat 10,1-7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s