Through the Eyes of Faith

Betul juga ya, kata ‘kebetulan’ itu menunjukkan sisi ignorant orang mengenai unsur-unsur penyusun pengalamannya. “Kebetulan saya lewat dan melihat korban kecelakaan sehingga saya bisa membantunya” Ungkapan itu merujuk kenyataan bahwa si saya itu tidak mengerti bahwa bahwa pada saat atau sebelum ia tiba di TKP itu kecelakaan terjadi. Ia menyebutnya kebetulan. “Kebetulan saya dokter” barangkali juga dilontarkan seorang dokter yang saat reuni mendapati teman lamanya stroke di TKP. “Kebetulan saya ketemu kamu” juga bisa dikatakan ketika seseorang sedang berpikir mengenai sesuatu dan tak tahu bahwa temannya melintas di depannya. Padahal, orang lewat itu bukan kebetulan. Orang jadi dokter juga bukan kebetulan, dia (atau orang tuanya!) merancangnya lama. Orang melintas di depan kita pun juga punya alasan dan tujuannya sendiri. Seandainya jadi ketua DPR/MPR itu hanya kebetulan, ngapain juga orang mesti berlama-lama dengan sidang dan voting?

Dengan demikian, apalagi dalam terang iman, bisa dibilang tak ada peristiwa kebetulan. Setiap peristiwa punya orientasi yang disusun oleh unsur-unsur yang tak selalu diketahui oleh subjek pelaku. Dalam setiap momen itulah setiap orang beriman ditanya: aku sudah ngapain aja, aku sedang ngapain, dan aku mau ngapain. Bukan kebetulan seseorang bertemu dengan orang lain yang langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Bukan kebetulan juga bahwa orang yang sudah lelah bekerja bertemu dengan kelompok garis keras yang sedang demo. Aneka peristiwa itu menantang para pelaku yang terlibat di situ: njuk ngopo, trus mau ngapain, so what gituloh!

Alhasil, dari momen ke momen setiap orang beriman disuguhi aneka wajah Allah yang memanggilnya. Di sinilah relevansi suatu pemeriksaan batin, untuk mengembangkan kepekaan batin orang terhadap panggilan Allah dalam setiap momen hidupnya. Keterampilan dalam pemeriksaan batin ini membuat orang mampu connect dengan dimensi ilahi dalam kesibukan hariannya dan inilah yang mengusir aneka kegalauan hidup: dalam segala hal aku dipanggil untuk mencinta. Bagaimana caranya? Ya tiap orang mesti mencari mana yang terbaik baginya dalam mencinta…

Through the Lens of Freedom

This boy was so amazed to see an extra-wide lens mounted to my heavy camera. Iloopedthe camerastraponmyneckso that theposition ofthe lens was rightin front ofmystomach, facing this boy’s eyes. Soon after having heard him saying an expression like “Che cannone!”, I pressed the shutter release without even thinking about exposure I had set before. Alas, I just made one shoot but I fortunately got theright focus and the exposure was not too bad.

The boy was actually following his mom, I guess, when he spontaneously stopped to see the big lens facing his eyes. He was really amazed to my “cannone” but, on the contrary, I did not even notice that he had a funny sticker covering his left eye. I was just aware of it after zooming the picture to his face. If…

View original post 234 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s