Yang diceraikan Allah, janganlah dipersatukan manusia!

Masih ingat filosofi Irlandia mengenai kekhawatiran kemarin, bukan? Ujung-ujungnya sama dengan yang disarankan Paulus dalam bacaan kedua hari ini: tak usah khawatir, tak ada yang perlu dikhawatirkan! Bedanya, filosofi Irlandia itu bernada humor dan dengan begitu bisa diterima sebagai suatu parodi, alias plesetan terhadap pesan Paulus itu.

Paulus meminta jemaat Filipi supaya mereka, alih-alih khawatir akan masa depan atau ancaman dari luar, meletakkan segala upayanya dalam rasa syukur dan doa kepada Allah, Si Penyelenggara Kehidupan. Itu adalah modal yang memungkinkan Paulus membuahkan hasil berlimpah.

Ini berkebalikan dengan gambaran bacaan pertama: Sebab kebun anggur TUHAN semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah tanam-tanaman kegemaran-Nya; dinanti-Nya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinanti-Nya kebenaran tetapi hanya ada keonaran (Yes 5,7). Kelaliman dan keonaran itu tampak dalam narasi Injil: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita (Mat 21,38b). Para penggarap kebun itu malah mau merebut kebun yang dipercayakan kepada mereka. Mereka diberi hak usaha, tapi malah dengan kekerasan memaksa supaya bisa mendapatkan hak milik!

Dari mana asalnya pikiran untuk mendapatkan hak milik itu ya? Mengapa ada kapitalisme daripada tidak? Oh oh oh, sori, ini bukan ajang filsafat.

Dari sudut pandang kerohanian, karena Allah bukanlah objek yang bisa ditundukkan oleh manusia mana pun, Dia tak mungkin dimiliki atau dimonopoli oleh orang atau kelompok orang tertentu. Sebaliknya, Dialah pemilik semesta ini. Dia bebas memberikan ini itu kepada kelompok orang ini itu juga. Dari situ muncul ‘perceraian’ tak terelakkan dalam wujud pluralitas (fisik): agama, bahasa, ras, suku, bangsa dan sebagainya.

Kelaliman dan keonaran mengacaukan keindahan yang ditata Allah. Itu terjadi ketika orang mulai menghapus pluralitas dari muka bumi dengan rasisme, genocide, fundamentalisme, dan sejenisnya. Itu tidak cuma ada di luar sana, dalam Koalisi Merah Padam misalnya, itu ada dalam hati setiap orang. Rambu-rambunya: ketika ada unsur pemaksaan/kekerasan, muncullah benih kuasa untuk merebut kekuasaan Allah sendiri.

Ya Tuhan, bebaskanlah aku dari aneka kekhawatiran supaya tidak cenderung merebut kekuasaan-Mu sendiri.


MINGGU BIASA XXVII A/2
5 Oktober 2014

Yes 5,1-7
Flp 2,1-11
Mat 21,33-43

 

1 reply