Mau Lu Apa?

Published by

on

Di pinggiran kolam Bethesda (mungkin lebih akurat: Betsaida) ada seorang yang lumpuh selama 38 tahun, angka yang menunjukkan sifat kronis sakitnya, belum sampai terminal. Barangkali yang membuat kronis sakitnya bukan kelumpuhan fisiknya sendiri, melainkan kelumpuhan mentalnya: tak punya kehendak atau kehilangan desire. Memang kultur masa bodoh orang-orang di sekitarnya bisa membuatnya frustrasi, malas, semangat redup dan niat menguncup. Akan tetapi, menyalahkan kultur individualis selama 38 tahun sebenarnya juga menunjukkan bahwa ia sendiri individualis: no way out.

Perjumpaan dengan Tuhan mengurangi ketergantungan pada sarana-sarana manusiawi; bukan karena buruknya sarana itu, melainkan karena Tuhan sendirilah yang membuat sarana manusiawi tatkala sarana yang dibutuhkan itu tak ada. Si lumpuh ini mengeluhkan ketidakpedulian orang lain terhadap dirinya, padahal dia sendiri sebetulnya gak lumpuh-lumpuh amat. Ia masih bisa bergerak ke kolam untuk mendapat kesembuhan, cuma selalu keduluan orang lain. Selalu keduluan orang lain tidak semata berarti bahwa orang lain tak peduli, tetapi juga diri sendiri tak peduli, gak jelas mau apa.

Bayangkanlah orang berkendara motor di tengah jalur antara jalur kanan dan kiri atau mobil dengan kecepatan rendah di jalur kanan: siapa (yang ingin cepat sampai) tak berpikiran untuk menyalipnya?! Ini bukan soal orang lain gak peduli, melainkan orang ini tak jelas maunya apa. Orang yang kemauan hidupnya jelas tentu sadar akan apa yang perlu bagi hidupnya: mau pelan ya ambillah jalur kiri. Tak sedikit orang yang gak niat jalan kencang, tetapi ambil jalur kanan.

Saya ingat sewaktu bersepeda di pinggiran kota Verona, saya salah ambil jalur sehingga masuk jalan tol. Saya baru sadar kesalahan saya setelah diklakson dari belakang dan pengemudi mobil membuka kaca jendela seraya berteriak, “Ma che fai?!” dengan isyarat tangan seperti orang makan dengan tangan itu. Teriakan itu berbunyi: mau lu apa sepedaan di jalan tol?! 

Perjumpaan si lumpuh dengan Yesus tidak membuatnya mengakui sosok Yesus sebagai nabi sekalipun, tetapi Yesus toh menyentuh dimensi penting si lumpuh itu: kehendak. Kelumpuhan kehendaknya telah melumpuhkan tubuhnya. Ini bukan soal mengatakan “Aku mau” dan semuanya bisa tercapai, melainkan soal memilih apa yang semakin mengarahkan orang pada kehidupan. Benarlah kata orang: heaven on earth is a choice we must make, not a place we must find.

Ya Tuhan, bantulah aku untuk sungguh-sungguh memilih jalan yang mengarahkan hidupku pada-Mu, bagaimanapun terjalnya jalan itu.


HARI SELASA PRAPASKA IV B/I
17 Maret 2015

Yeh 47,1-9.12
Yoh 5,1-3a.5-16

Posting Tahun Lalu: Wilt Thou be Made Whole?