Slogan revolusi mental saat pemilu memang menarik perhatian orang-orang terpelajar untuk berpihak pada Jokowi. Kelompok cerdas, yang nuraninya tak terusik uang, dari aneka golongan ini menaruh harapan besar, mungkin terlalu besar, terhadap sosok Jokowi. Bagaimana slogan itu diterapkan? Jokowi membentuk sebuah kabinet yang dijuluki kabinet kerja. Ia tak mau jatuh pada wacana dan sloganisme. Ini adalah niat baik yang pantas dihargai: jargon itu mesti diterjemahkan ke dalam aksi nyata dengan kerja supaya tidak jadi NATO (no action tapi omdo’).
Kelihatannya Jokowi kurang sungguh-sungguh mengerti bahwa teori dan aksi itu tak berelasi satu arah sehingga revolusi mental tak mungkin hanya dibuat dengan kerja. Mental itu tetap ‘hadir’ dalam berwacana maupun bekerja. Orang yang mentalnya korup, tak mau dituntut melakukan kerja nyata bagi bonum commune (a.k.a. kesejahteraan bersama, keadilan sosial), tetapi juga enggan mendengarkan wacana yang konstruktif bagi bonum commune itu. Orang macam ini bisa berteguh pendirian dengan kepentingan untuk melambungkan integritasnya: menampilkan topeng ketegasan, keras, mengedepankan supremasi hukum. Akan tetapi, orang yang punya integritas pun tetaplah terbuka pada koreksi yang bisa dilihat misalnya dari hasil polling di sini.
Kasus Mary Jane ini sebenarnya test case yang baik setelah kasus Budi Gunawan kemarin (yang rupanya memprihatinkan hasilnya) untuk menunjukkan bagaimana Jokowi menunjukkan kesehatan mentalnya. Jokowi bisa saja tetap tenang menyadari popularitasnya yang menurun dan kasus Mary Jane ini bisa semakin menurunkan popularitasnya. Akan tetapi, soal hukuman mati terhadap Mary Jane ini bukanlah soal popularitas. Ini justru poin yang menunjukkan isi mentalnya: cara melihat, cara merasa, cara berpikir, cara menilai, cara memutuskan. Menghabisi nyawa orang hanya dengan kategori popularitas jelas merupakan kultur lama tak ubahnya seperti anggota baru geng motor yang diinisiasi dengan membacok pengendara motor secara random. Popularitasnya menanjak untuk anggota geng motor lainnya. Kiranya Pak Jokowi tidak masuk dalam bilangan orang bermental seperti itu.
Apa iya Pak Jokowi ini sebegitu yakinnya bahwa orang-orang yang mengelilinginya (mulai dari wakilnya sampai kaki tangan yang jauh lebih rendah) adalah orang-orang yang bersih semua dan punya hak untuk menghabisi nyawa orang lain? Apa kalau sudah diberi predikat ‘Agung’ itu lantas bebas kepentingan? Apa asal atributnya badan negara yang dipasrahi menanggulangi narkoba lantas prosedur risetnya bisa diandaikan begitu saja kebenarannya? Mosok sih Pak Jokowi menggembar-gemborkan 18.000 kematian per tahun karena narkoba? Data dari mana ya? Mosok sih Mary Jane itu pantas diberi atribut gembong atau ratu narkoba dari Filipina? Orang macam apa yang memberi atribut seperti itu ya? Tahu fakta, punya datakah?
Seandainya kasus Mary Jane ini tak dikaji ulang, revolusi mental hopeless… Kalau Pak Jokowi ini tetap rendah hati dan berserah kepada Allah, kasus macam Mary Jane ini benar-benar mesti dipikir dengan keterbukaan pada prinsip-prinsip yang diakui secara luas sebagai nilai yang mulia.
Atau, mungkin dengan peran Pilatus ini Pak Jokowi menemukan satu-satunya cara untuk menunjukkan dunia bahwa dirinya adalah pemimpin yang tegas dan keras? God knows. Salam dan doa untuk Mary Jane, simpati untuk keluarganya nan sederhana. Paska sudah lewat, tetapi kasus ini menunjukkan bahwa Kristus yang bangkit itu bukan Kristus yang leha-leha dalam kemuliaan, melainkan Kristus yang menderita juga dalam diri orang seperti Mary Jane. Ampuni kami yang tak punya kuasa selain memasrahkan segalanya pada Allah Sang Penyelenggara kehidupan.
