Gunanya Jatuh Cinta

Maksa banget gak sih membahas gunanya jatuh cinta padahal teks Injilnya omong soal misi murid-murid Yesus? Kayak teroris aja maksa-maksa! Teks Injilnya merangkum kerjaan Yesus keliling ke sana kemari dan hatinya tergerak karena begitu banyak orang yang mirip kawanan domba tanpa gembala. Lahan misi begitu besar, tetapi mosok cuman kerja sendirian? Yesus lalu berpesan kepada para pengikutnya,”Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Maksudnya tentu supaya mereka minta kepada Allah supaya mengutus pekerja untuk orang banyak yang kelihatan tak punya orientasi, sangkan paran, azas dan dasar hidup itu.

Tetapi apa sih artinya minta pekerja kepada Allah itu? Kayak minta oleh-oleh kepada orang yang pergi ke luar negeri gitu? Pasti tidaklah. Pekerja itu ada di antara mereka sendiri: Yesus memanggil dua belas murid dan memberi kuasa kepada mereka untuk menjalankan misi. Minta pekerja berarti minta supaya diberi ‘modal’ untuk mengerjakan misi itu. Apa yang diminta itu bukan sesuatu yang terpisah dari si pemintanya seperti orang meminta hadiah dari orang lainnya. Dalam arti luas, kata ‘meminta’ itu bisa juga dipahami sebagai ‘berdoa’. Dalam teks, doa mohon pekerja itu dilanjutkan dengan pemilihan dua belas murid, dan mereka memang menjalankan misi dari Allah.

Doa bisa jadi merupakan bentuk pertama komitmen seorang murid terhadap misinya. Tidak hanya itu, doa juga menjadi tanda panggilan murid. Sayangnya, oleh sebagian orang doa itu dimengerti melulu sebagai ritual. Orang menganggap seseorang rajin berdoa jika ia sering ke gereja dan ikut misa. Orang mengira bahwa mata terpejam dengan mulut komat-kamit adalah doa. Akan tetapi, yang sebenarnya ialah bahwa itu semua ritual (ya bisa sih diberi embel-embel: ritual doa, tapi pokoknya tetap ritual). Doa terjadi dalam hati yang sadar di hadirat Allah. Dalam banyak kasus, doa ini hanya dimungkinkan oleh cinta, dan jatuh cinta bisa menjadi pintu masuk ke sana.

Dalam sebuah dialog pada film Of Gods and Men (2010) seorang biarawan (katolik) ditanyai oleh seorang penduduk perempuan muslim (yang sedang galau karena problem relasinya dengan laki-laki yang diharapkan ayahnya jadi pasangan hidup),”Bagaimana kita tahu bahwa kita sedang jatuh cinta?” Biarawan itu (pasti bukan saya) menjelaskan tanda-tanda jatuh cinta. Setelah itu dilanjutkan dengan pertanyaan,”Apakah kamu pernah jatuh cinta?” Biarawan itu menjawab,”Pernah. Beberapa kali.” Kemudian ia menjelaskan bahwa ia mengalami cinta lainnya, yang jauh lebih besar; dan ia sudah menanggapinya selama 60 tahun.

Orang yang pernah jatuh cinta itu tahu apa artinya seluruh perhatiannya tersedot kepada pribadi tertentu. Ini jauh lebih dahsyat daripada sekadar ketertarikan seksual. Pribadi yang dijatuhi cinta menjadi pusat perhatian dan apa saja yang ada di sekelilingnya menjadi sarana demi menuju pusat perhatian itu (silakan mengingat-ingat, Anda yang pernah jatuh cinta!). Jika pusat perhatian itu adalah pribadi Allah (alias orang jatuh cinta pada-Nya), tak ada cara selain realisasi doa nan tulus untuk mewujudkan cinta-Nya. Problemnya, gimana orang bisa jatuh cinta pada Allah ya?

Allah yang mahabesar, bantulah aku untuk menyadari cinta-Mu sepanjang hayatku. Amin.


HARI SABTU ADVEN I
5 Desember 2015

Yes 30,19-21.23-26
Mat 9,35-10,1.6-8

Posting Tahun Lalu: Pintar Tanpa Cinta?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s