Road Rage

Published by

on

Jangan mengambil keputusan pada saat labil secara emosional. Itu mengapa sebetulnya ababil belum layak berkendara karena berkendara itu perkara pengambilan keputusan. Anda tidak mungkin berangkat kantor injak gas terus dan pulang kantor injak rem terus, bukan? Belum lagi, Anda tak mungkin dari rumah menikung ke kiri terus sampai kantor kecuali  misalnya rumah dan kantor Anda berada di Gelora Bung Karno.

Apa mau dikata, tak jarang saya dapati ababil berkendara, dan ababil ini tak perlu dibatasi pada abg alias anak baru gedhe; kakek-kakek di jalan raya pun bisa jadi ababil di jalan raya saat berkendara; dan itu bisa bikin jalan yang sudah ramai semakin rame karena ababilnya. Saya pernah sekali mempraktikkan road rage dengan membentak keras sopir Metro Mini [masih ada gak sih hari gini?] karena dari arah berlawanan dia membawa bus tunggangannya itu melewati divider dan memaksa saya injak rem mendadak. Saya tidak siap dengan poster asusila, jadi paling gampang pakai mulut saya saja. Tapi, ini Jakarta, Bung. Tereak doang mah kagak mempan

Kembali ke paragraf awal, penjelasan secara rohani masuk akal juga: kalau orang itu emosional, dia sedang dikuasai oleh ‘roh jahat’ dan jika saat itu dia mengambil keputusan, berarti keputusannya dibimbing oleh ‘roh jahat’ itu. Tak mengherankan, hasilnya ya kejahatan dong. Sejak kapan ‘roh jahat’ membimbing orang menuju kebaikan? Itu hanya mungkin jika ‘roh jahat’nya tersesat, bukan? Tapi, mana ada ‘roh jahat’ tersesat? Menyesatkan bisa saja, tetapi kalau tersesat mah malah aneh…. Halah, dibahas, Rom!

Sebetulnya saya cuma mau kasih contoh bahwa orang beriman itu tidak boleh takut kepada orang lain. Saya kan tidak takut pada sopir Metro Mini yang waktu itu saya bentak-bentak. Lho apa hubungannya dengan iman ya?
Ada. Bukan bentak-bentaknya (itu tak perlu Anda contoh), melainkan tidak takutnya itu. Kalau Anda takut kepada orang lain, Anda menganggapnya sebagai sosok yang membahayakan hidup Anda, ye kan? Nah, kalau orang itu Anda anggap membahayakan hidup Anda, bagaimana Anda mau mencintainya, jal? Alhasil, kalau Anda tak mau mencintainya, gimana Anda mengklaim diri menjadi orang beriman yang mengikuti Tuhan, meneladan Nabi, dan seterusnya?

Lah, tapi kalau orang itu benar-benar megaloman, membahayakan banyak orang, wajar kan takut?
Ya mesti dicermati lagi persisnya yang ditakuti apa. Saya memang merasa takut-takut gimana gitu ketika moncong pistol terarah ke kepala saya dan teman demonstran yang saya tarik mundur. Akan tetapi, saya tidak takut pada polisi yang menodongkan pistol itu!
Kenapa? Dalam teks bacaan hari ini dikatakan: karena dia hanya bisa mematikan fungsi biologis saya.
Halah, nggilani, Rom; nek aku didhor ya tetep wae aku mati!

Nah, itulah yang pantas ditakuti: yang bikin Anda menganggapnya nggilani, yang membuat Anda yakin bahwa kematian Anda tiada makna, yang membuat Anda kalah sebelum bertanding, yang membuat Anda jadi korban keadaan dan seterusnya. Itu bukan fungsi biologis saja yang dihentikan, melainkan fungsi psikologis, pneumatologis, sosiologis, antropologis, dan silakan cari logis-logis yang lain; yang mati bahkan ketika fungsi biologis Anda masih berjalan.

Yang pantas Anda takuti itu jebulnya tidak ‘di luar sana’, melainkan ‘di dalam sini’, yang sangat potensial jadi road rage, misalnya. Kalau cuma di jalan raya, mungkin masih mending; tapi apa gak runyam kalau terjadi di sepanjang jalan kehidupan? Eaaaaa…..
Tuhan, mohon rahmat kemerdekaan supaya kami semakin berani mencintai-Mu dengan setulus hati. Amin.


HARI MINGGU BIASA XII A/1
25 Juni 2023

Yer 20,10-13
Rm 5,12-15
Mat 10,26-33

Minggu Biasa XII A/2 2020: Bisnis Ketakutan
Minggu Biasa XII A/1 2017: Hari Kemenangan

Previous Post
Next Post