Healing

Published by

on

Kadang-kadang kalau saya pergi ke tempat ziarah dan melihat banyak orang datang untuk berziarah, saya bertanya-tanya sendiri: apa sih yang sebenarnya mereka lakukan, apa pula yang saya lakukan? Pertanyaan pertama, saya tidak bisa menjawabnya. Pertanyaan kedua, jelas jawabannya: healing.

Dulu saya pernah punya kebiasaan setiap awal tahun ke tempat ziarah. Ya itu tadi, untuk healing. Konkretnya tangan saya memegang tasbih, mulut mendaraskan doa rosario, tetapi sudah sejak berangkat ke tempat ziarah itu saya membawa modal pertanyaan: apa yang saya cari, apakah arah saya sudah selaras dengan apa yang saya cari itu?

Masih di tempat ziarah, saya menyimpan kecurigaan bahwa lebih banyak orang yang memelihara penyakit daripada healing. Sekali lagi, ini hanya kecurigaan saya, yang dapat mengafirmasi atau menegasi kecurigaan saya itu ya Anda sendiri saat pergi ke tempat ziarah. Kecurigaan ini saya simpan dengan dasar teks bacaan hari ini yang mengisahkan sosok Yesus yang berdoa pada masa sulitnya. Betapa tidak, orang-orang yang semula begitu dekat dengannya, semakin hari semakin sulit menerima proposal hidup yang disodorkannya. Pemuka agama jelas sejak awal berkonfrontasi dengannya; Yohanes Pembaptis pun beda jalan akibat begitu yakin bahwa Allah bakal menghukum orang bak menebang pohon; warga di tempat Yesus lebih kerap berkhotbah juga tampaknya tidak punya keberanian untuk menerima proposal Yesus ini.

Proposalnya apa toh? Lha ya healing itu tadi: supaya Allah menjadi Bapa bagi semua, bukan hanya bagi mereka yang merasa yakin bahwa agama atau ideologi mereka yang paling benar; supaya orang mencari rezeki bukan “bagiku” sendiri, melainkan “bagi kami” sehingga tak perlu juga korupsi; supaya tidak ada yang terkucilkan oleh pembangunan, dan seterusnya sehingga Allah itu menjadi Bapa bagi komunitas manusia yang egaliter. Ini tentu susah atau tak mungkin terwujud jika orang gemar memelihara sikap otoriter.

Kembali ke tempat ziarah, jangan-jangan yang membedakan Anda dan saya dari Yesus ini hanyalah perkara bahwa Yesus berdoa, sedangkan kita tidak. Silakan tinjau isi doa dalam teks bacaan hari ini: bukan aneka petisi ini itu, melainkan ungkapan syukur bahwa jebulnya kehendak Allah itu malah dinyatakan kepada ‘orang kecil’. Jangan-jangan memang hakikat doa ya di situ itu, bukan di tempat ziarah atau ibadah, melainkan di hati pramuka: di sini hiling di sana hiling, di mana-mana hatiku hiling.
Tentu saja, baru benar-benar hiling kalau tutur kata dan perilaku sinkron dengan arah yang dituju dalam doa tadi.

Tuhan, mohon rahmat kejernihan hati dan budi untuk menimbang-nimbang arah jalanku supaya selaras dengan kehendak-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA XIV A/2
9 Juli 2023

Za 9,9-10
Rm 8,9.11-13
Mat 11,25-30

Posting 2020: Ergonomic Faith
Posting 2017: Beban Pembawa Nikmat

Previous Post
Next Post