Nemo

Published by

on

Sewaktu saya mengelola sebuah rumah tangga yang anggotanya berjumlah 30 (bapaknya 12, tanpa ibu) dengan karyawan lebih dari separuhnya (betapa makmurnya rumah tangga ini ya, tiap dua orang punya satu asisten rumah tangga), saya sempat dihinggapi rasa curiga karena dari hari ke hari saya mendapati jumlah sendok di rumah ini berkurang. Ini sendok bukan sembarang sendok karena ukurannya klop untuk mulut orang Eropa-Amerika; bahannya juga bukan kaleng untuk sendok sulap; cukup kuat untuk memalu paku ke triplek. Semula saya curiga bahwa ada karyawan yang diam-diam membawa sendok ini pulang, tetapi karyawan-karyawan senior rasa-rasanya kok ya janggal jika berbuat itu. Karyawan barunya, saya sendiri yang terima sehingga juga janggal kalau mereka tega melakukannya pada saya. Akan tetapi, tikus atau kucingkah yang melakukannya? Atau anggota rumah itu sendiri? Tapi untuk apa, jal?

Saat saya hendak mencuci piring dan membuang kulit pisang ke tempat sampah sementara mata saya terarah ke posisi berseberangan dengan tempat sampah itu, tampaknya garpu di piring saya ikut terbuang ke tempat sampah. Ketika saya ambil garpu itu, saya lihat ternyata ada sendok juga di dalamnya; yang artinya, sebelum saya melakukan keteledoran itu, bisa jadi ada orang lain yang melakukannya. Itu berarti juga bisa jadi sendok-sendok itu hilang dengan modus serupa: setor ke tempat sampah, dan karyawan memang tidak saya minta setiap kali sortir apa yang ada di tempat sampah! Emangnya laundry po piye?

Tetangga saya menyitir kisah dalam teks Perjanjian Lama untuk menunjuk poin yang mirip-mirip dengan pengalaman saya dengan sendok tadi: keteledoran itu tidak ada di “luar sana” tetapi di “dalam sini” dan ini bukan perkara siapa yang salah atau benar atau siapa yang teledor atau teliti, melainkan bahwa pertobatan, transformasi, perubahan, perkembangan hanya terjadi jika yang “di dalam sini” diurus. Caranya beraneka ragam, tetapi poinnya mesti menyentuh yang “di dalam sini” itu.

Kisah Perjanjian Lama itu adalah tentang Daud, yang selingkuh dengan Betsyeba, didatangi Natan. Natan tidak datang dengan modal hakim yang menuduh Daud telah berselingkuh. Begini ceritanya: Tuhan mengutus Natan kepada Daud. Ia datang kepada Daud dan berkata kepadanya: “Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin. Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi; si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain dari seekor anak domba betina yang kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar padanya bersama-sama dengan anak-anaknya, makan dari suapnya dan minum dari pialanya dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya. Pada suatu waktu orang kaya itu mendapat tamu; dan ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing dombanya atau lembunya untuk memasaknya bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Jadi ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu.” Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan: “Demi Tuhan yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati. Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan.” Kemudian berkatalah Natan kepada Daud: “Engkaulah orang itu!” (2Sam 12,1-7 ITB)

Bisa dimengerti. Orang punya mekanisme pertahanan diri jika dituduh, dikritik, atau disalahkan begitu saja. Ini sudah dari sononya, dari Adam-Hawa-Ular.
Salah satu yang menarik dari bangsa Semitik ialah mereka gemar memakai metafora, perumpamaan, anekdot untuk menyampaikan kebenaran. Tentu, bisa jadi ambigu untuk sebagian orang, dan justru karena itulah perumpamaan dalam teks bacaan hari ini cocok menggambarkan bagaimana hati setiap orang pada dasarnya begitu dinamis, bisa jadi pinggiran jalan, tanah berbatu, semak duri, atau tanah yang baik.

Teks mengindikasikan bahwa tanah yang baik itu ialah hati yang tidak cuma plonga-plongo ketika mendengar Sabda Tuhan; yang tidak suam-suam kuku alias anget-anget tai ayam (lha kenapa mesti ayam sih, apa sudah diteliti kambing atau kuda misalnya) alias mediocre atau demenyar (seminggu dua minggu semangat dan senang-senang, setelah kelihatan jeleknya njuk melenggang pergi); yang tidak lebay dengan kekhawatiran dunia dan tipu daya kekayaan (Wealth can trick us because it promises what it cannot give).

Itulah mengapa saya sitir kembali nemo dat quod non habet: tidak ada orang yang bisa memberikan apa yang tidak dimilikinya.

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan dan kesetiaan untuk bertekun pada hati-Mu yang pengasih dan penyayang. Amin.


MINGGU BIASA XV A/2
16 Juli 2023

Yes 55,10-11
Rm 8,18-23

Mat 13,1-23

Minggu Biasa XV A/2 2020: The Love Within
Minggu Biasa XV A/1 2017: Kompetensi Duit

Minggu Biasa XV A/2 2014: Man behind the Scene

Previous Post
Next Post