Kompetensi Duit

Panggilan umat beriman tidak terletak pada upaya menjawab pertanyaan jenis tanah apa yang merepresentasikan dirinya (pinggiran jalan, tanah berbatu, semak berduri, atau tanah subur). Kalau fokusnya di situ, biasanya orang malah bisa jatuh dalam sikap deterministik atau bahkan fatalistik yang tecermin dalam ungkapan seperti “ya aku memang bukan orang kudus” atau “aku memang lemah” atau “ya mau apa lagi aku cuma manusia biasa” atau “toh orang baik bisa saja mati muda (ngapain mesti jadi orang baik?)” dan sebagainya. Itu mengapa juga orang bisa risau dengan soal “jenis tanah” begini. Ada jenis-jenis tanah yang tak subur untuk hidup beriman; kalau dasarnya orang ndableg ya susahlah untuk beriman, apalagi jadi imam atau biarawan/biarawati.

Bacaan hari ini biasanya dipakai sebagai landasan refleksi apakah seseorang itu menyiapkan dirinya sebagai tanah berbatu, semak berduri atau tanah subur. Semakin subur tanahnya, semakin baiklah orang itu dalam hidup berimannya. Ya ya ya, bisa jadi secara tak langsung memang begitu, tetapi rasanya sulit mengambil kesimpulan deterministik mengenai jenis-jenis orang. Tidak fair juga karena pola pikir itu menciptakan diskriminasi terhadap orang-orang yang katakanlah tidak beriman, tidak jadi kaum religius, tidak jadi biarawan dan sebagainya. Ini lalu bertendensi membuat kategori atau klasifikasi mengenai siapa orang kudus dan siapa orang Semarang seturut status seseorang. Ini sudah melenceng terlalu jauh.

Adalah lebih fair melihat jenis-jenis tanah itu sebagai kualitas relasi orang dengan Sabda Allah sendiri. Maksudnya, setiap orang punya jenis tanah itu secara komplet. Ada pinggiran jalannya, semak berdurinya, tanah berbatunya, dan tanah suburnya. Apakah semakin banyak tanah suburnya semakin baik? Ya tentu saja, tetapi amat sangat jarang terjadi bahwa seseorang itu seutuh-utuhnya merupakan tanah subur. Berhubung iman itu dinamis, jenis tanah seseorang pun juga dinamis. Kadang semak berduri lebih dominan, kadang tanah berbatunya, dan sebagainya. Rupanya dalam batas kewajaran (common sense misalnya), jenis tanah itu malah bergantung pada fokus perhatian orang kepada kekuatan Sabda Allah.

Ada sharing dari dosen muda yang tinggal menunggu kenaikan jabatan fungsional sebagai Guru Besar dengan pesan yang bisa dipakai sebagai contoh. Misalnya, Sabda Allah itu berbunyi “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan yang lain-lainnya akan ditambahkan.” Dari fokusnya kepada Sabda Allah itu, ia bekerja giat dengan strategi dan taktik yang ciamik sehingga makna Sabda Allah itu dirumuskannya kurang lebih begini: gaji atau duit atau rezeki itu mengikuti kompetensi. Ia menggumuli kompetensinya tanpa risau soal besar kecilnya fulus yang diterimanya dan ternyata malah justru karena kompetensinya itu ia mendapat surplus rezeki. Ini akan berbeda jika fokusnya pertama-tama pada besarnya reward duit dari pekerjaan-pekerjaannya: setengah mati mencari duitnya dan kompetensinya meragukan karena ribut cari duitnya.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami sanggup mendahulukan Sabda-Mu dalam pergumulan hidup kami. Amin.


MINGGU BIASA XV A/2
16 Juli 2017

Yes 55,10-11
Rm 8,18-23

Mat 13,1-23

Minggu Biasa XV A/1 2014: Man behind the Scene

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s