Persekusi

Tahukah Anda apa hubungan judul dengan isi posting kali ini? Pasti tidak, karena saya pun tak tahu apa hubungannya, wong memang ini baru pengantar. Dasar ndeso….

Bacaan hari ini memang berisi wanti-wanti, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk meneguhkan orang beriman. Maklum, teks ini memang ditulis pada saat para pengikut murid Kristus itu mengalami persekusi. Njuk apa relevansinya untuk zaman ini yang persekusinya tidak sampai sesadis persekusi zaman baheula itu? Bukankah tak lagi banyak orang yang disiksa sungguh-sungguh karena alasan iman yang dihayatinya dan lebih banyak persekusi dilandaskan pada kepentingan politis? Iya betul, lihat saja bagaimana satu per satu janji kampanye mulai dicarikan rasionalisasinya supaya tak usah direalisasikan karena janji itu dulu maksudnya hanya asal supaya si pesakitan itu kalah.

Justru itulah persoalannya! Wanti-wanti dalam teks hari ini malah relevan manakala tak ada lagi persekusi yang dilandaskan sentimen iman. Semakin lama dunia semakin mengakui fakta pluralitas hidup ini sebagai keniscayaan dan keseragaman adalah utopia belaka. Maka, saya yakin, semakin banyak orang akan merasa malu sendiri kalau sesama umat beriman ‘saling mendahului’ entah dengan cara membandingkan HTI dengan Vatikan atau mengidentikkan terorisme dengan Islam, misalnya. Ini adalah lelucon yang tak perlu ditanggapi secara lebih serius daripada menarik implikasi moral dari teks hari ini: jangan takut karena proyek Allah jauh lebih kompleks dan superior terhadap ambisi pribadimu.

Gambaran burung pipit dan rambut di kepala menginsinuasikan hal-hal kecil dan detail yang rupanya diperhitungkan Allah. Rasanya belum ada ilmuwan yang mengadopsi sistem transportasi burung gereja yang beramai-ramai bisa melakukan migrasi sekian ribu mil jauhnya. Rambut kepala yang umumnya berkisar 100-250 ribu itu bukan cuma pajangan, melainkan juga punya fungsi protektif.

Kalau begitu, persekusi yang lebih mengerikan bukanlah konspirasi politik yang bisa memakai topeng agama, melainkan justru hilangnya trust kepada Allah yang superior tadi yang membuat orang takut dan ujung-ujungnya malah melakukan persekusi. Dengan alur seperti ini, orang beriman bisa berkaca diri. Berbahagialah ia yang boleh mengalami persekusi karena itu berarti dia jadi kurban mereka yang kehilangan iman. Sebaliknya, kalau dia melakukan persekusi, ada baiknya mawas diri karena itu indikator hilangnya iman kepada Allah dan cuma ngotot pada ideologi, agama, ikatan primordial, dan sebagainya.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami mampu menempatkan kerapuhan kami dalam proyek besar-Mu. Amin.


HARI SABTU BIASA XIV A/1
15 Juli 2017

Kej 49,29-32;50,15-24
Mat 10,24-33

Sabtu Biasa XIV C/2 2016: Jangan-janganisme
Sabtu Biasa XIV B/1 2015: Transparan Itu Sesuatu
Sabtu Biasa XIV A/2 2014: Guru Tak Lebih dari Muridnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s