(Sate) Kambing Tua

Catatan Yesus hari ini tampaknya kontradiktif dengan perumpamaan gembala yang baik yang bahkan meninggalkan 99 dombanya untuk menemukan satu domba yang hilang (Luk 15,4). Betapa tingginya rasa aman yang ditimbulkan oleh sosok gembala seperti itu, tetapi alih-alih memberi rasa aman, kali ini malah dia mewanti-wanti bagaimana tugas perutusan yang diberikannya itu seperti menyemplungkan kawanan domba ke dalam ancaman serigala, tak ada keamanan hidup yang bisa dibayangkan dari situ. Iki piye to, di satu sisi meyakinkan bahwa dia memberi rasa aman, di lain sisi menekankan betapa ancaman itu nyata dan besar.

Lha tentu saja wong konteksnya ya berbeda. Yang pertama kan cuma perumpamaan, tidak dideskripsikan bagaimana disposisi atau karakter domba-dombanya itu. Perumpamaan itu menggambarkan perhatian si gembala yang baik, bukan menggambarkan bagaimana dombanya yang hilang itu bisa jadi sudah diterkam serigala. Bisa jadi juga domba-dombanya itu cuma sosok yang cari aman dan numpang bêkèn gembalanya, atau semacam kéré munggah balé gitu deh. Mereka ini mungkin merupakan gambaran murid di tahap awal, yang bisa jadi tak punya concern bahkan untuk memperhatikan sesama domba.

Catatan hari ini jelas lebih menyangkut soal domba ‘dewasa’ yang mesti menghadapi tantangan sesungguhnya. Seperti sudah dibahas kemarin, ini adalah domba yang sudah punya modal untuk ‘tinggal bersama’ gembala meskipun pergi jauh menghadapi pertempuran batin yang tidak mudah dihadapi. Ini adalah sosok murid, dan ini adalah soal kemuridan yang sesungguhnya.

Kemarin dulu dalam salah satu speech dari pimpinan tertinggi gank saya itu disampaikan pesan sederhana yang tentu saja tidak gampang mewujudkannya. Salah satu pesan itu adalah bahwa anggota gank kami ini mesti mengidentifikasi diri (bagaimanapun wujudnya) dengan kaum miskin karena hanya dengan begitu ada jaminan untuk merealisasikan kebahagiaan bagi semakin banyak orang. Logikanya sederhana sekali: kalau kaum miskin itu happy, selebihnya orang tentu happy, tetapi tidak sebaliknya. Maksudnya, belum tentu kebahagiaan kaum yang kuat itu menular kepada kaum lemah, karena bisa jadi kebahagiaan kaum yang kuat itu muncul karena paradigma dominasi, korup, dan penuh kekerasan.

Kalau begitu, senjata yang dipakai memang tak lain adalah kekuatan cinta, eaaaa… nongol lagi. Cinta inilah yang memungkinkan orang terbebaskan dari elemen busuk dominasi, dari pemaksaan sampai kekerasan. Maka, bahkan di tengah-tengah ancaman nyata yang membahayakan hidup orang sekalipun, cinta bisa jadi senjata yang efektif lebih daripada nuklir antarbenua. Menurut Mahatma Gandhi, cinta macam ini malah cuma dimiliki orang kuat, yang sanggup mengampuni orang-orang lemah yang memakai topeng dominasi untuk menutupi kelemahannya. Kalau diibaratkan sate kambing, mungkin ini adalah kambing tua yang orang pun ogah menjadikannya sebagai mangsa favorit. Kambing tua ini bisa mengalahkan calon pelahapnya tanpa kekerasan, bahkan setelah ia dibunuh…#loh.

Ya Tuhan, mohon rahmat kekuatan cinta-Mu untuk menggumuli tantangan hidup kami. Amin.


HARI JUMAT BIASA XIV A/1
14 Juli 2017

Kej 46,1-7.28-30
Mat 10,16-23

Jumat Biasa XIV C/2 2016: Silakan Mringis
Jumat Biasa XIV B/1 2015: Berani Nekat?
Jumat Biasa XIV A/2 2014: Apakah TV Bisa Tobat?

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s